Kamis, 01 Maret 2012

Kisah Si Pemalas dengan Abu Hanifah

Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Keluhannya mengandungi kata-kata, "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. 
Sejak dari pagi lagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah longlai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik." Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sebaik sahaja dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi wang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya.
Dalam pada itu, si malang berasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas beliau tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi wang dan secebis kertas yang bertulis,

"Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cubalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh.Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus." 

Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu kedengaran lagi, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kelmarin,sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai untung nasibku." Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi wang dan secebis kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. 
Orang itu terlalu riang sebaik sahaja mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya. Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada cebisan kertas lalu dibacanya,

"Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak redha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan….jangan berbuat demikian.Hendak senang mesti suka pada bekerja dan berusaha kerana kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak perlu atau disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu.
Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah…carilah segera pekerjaan, saya doakan lekas berjaya." Sebaik sahaja dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sedar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha.

Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikut peraturan-peraturan hidup (Sunnah Tuhan) dan tidak lagi melupai nasihat orang yang memberikan nasihat itu. Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajar kita untuk maju ke hadapan dan bukan mengajar kita tersadai di tepi jalan.

Jangan Pernah Menganggap Remeh Orang lain

Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.
Tukang cukur berkata : " Itu Bejo, dia anak paling bodoh di dunia "
" Apa iya ? " jawab pengusaha
Lalu tukang cukur memanggil si Bejo, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp. 1000 dan Rp. 500, lalu menyuruh Bejo memilih
Tukang Cukur : " Bejo, kamu boleh pilih & ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih ! "
Bejo melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp. 1000 dan Rp. 500, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp. 500.
Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang pengusaha dan berkata : " Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang nilainya paling kecil. "
Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya : " Bejo, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp. 1000 dan Rp. 500, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp. 500, kenapa tak ambil yang Rp. 1000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp. 500 ? "
Bejo pun berkata : " Saya tidak akan dapat lagi Rp. 500 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp. 1000, berarti permainannya akan selesai ... "

PESAN MORAL :
Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. 

Masihkah Kau Ingat

Dalam sepi dan sunyi
Masihkah kau ingat padaku
Detik demi detik kita lewati bersama
Adakah kesetiaan itu dalam hatimu

Kini telah terlintas dan ku sadari
Aku tak berharga bagimu
Kini kau buang aku jauh dari hidupmu
masih adakah tempat untuk ku

Berdasarkan sucinya hati
Berdasarkan iman kita
Bukan berdasarkan harta semata
Tapi terjalin dari hati ke hati...

Riwayat tentang Membaca Al-Qur'an yang sampai pada Kita ada 6

  1. Mutawatir: adapun bacaan Mutawatir yaitu di nukil atau diriwayatkan dari sekelompok orang yang tidak mungkin sepakat berbuat dusta, mulai awal sanad hingga akhir sanad. Inilah yang paling kuat dalam masalah qiro'ah.
  2. Mashur: yang sah sanadnya dan tidak mencapai tingkatan Mutawatir dan riwayatnya itu cocok dengan kaidah Bahasa Arab, cocok rosamnya (tulisan tanpa harokat dan titik) dan bacaan ini terkenal disisi para Qori'. Mereka tidak memandangnya salah, tidak juga memandangnya Syudzuz, maka para ulama' menyatakan bahwa riwayat mashur itu dapat digunakan dalam membaca Al-Qur'an.
  3. Ahad: sah sanadnya, namun menyalahi tulisan/menyalahi kaidah Bahasa Arab/ tidak terkenal. Adapun riwayat Ahad, tidak boleh digunakan membaca Al-Qur'an.Syadz: yang tidak sah sanadnya seperti bacaan "ملك يوم الدين" dengan shigot madzi dan mim-nya di nashobkan.
  4. Maudlu': yang tidak ada sanadnya (palsu).
  5. Mudroj: yang ditambahkan dalam Qiro'ah sebagai penafsiran, seperti riwayat ibnu Abbas:
.... ليس عليكم جناح أن تبتغوا فضلا من ربكم في مواسم الحج
           adapun perkataan "في مواسم الحج" adalah penafsiran yang disisipkan.

     4 macam bacaan yang terakhir (Ahad, Syadz, Maudlu' dan Mudroj) tidak boleh digunakan untuk membaca Al-Qur'an baik didalam maupun diluar sholat.

 
Back To Top