Sabtu, 10 November 2012

Sufi bukan Bagian dari Islam karna Sufi sama seperti Syiah




Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam.
Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.

MENGENAL BEBERAPA KEYAKINAN SUFI
Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim. Membolak-balik, serta merubah pemahaman Sunnah An-Nabawiyah yang telah suci. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menakdirkan untuk agama ini, orang-orang yang memperbaharui agama-Nya.
Yakni, dengan membersihkan Islam dari bermacam aqidah dan filsafat yang mengalir dalam benak manusia akibat pengaruh pola pikir keberhalaan. Maka, diungkaplah borok-borok mereka, dipilah perkataan mereka serta diterangkan kebohongannya. Metoda merekapun dibuyarkan dengan menelaah kitab-kitab induk sufi. Berikut secara ringkas ditampilkan keyakinan-keyakinan mereka.

ILMU LADUNI
Istilah ini dikaitkan kepada firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala tentang nabi Khidir:
"wa 'allamnaahu min Ladunnaa 'ilmaan" Artinya :...Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.". [Al-Kahfi : 65].
Yang dimaksud dengan ayat diatas, menurut mereka, adalah disingkapnya alam ghaib bagi mereka. Caranya, dengan kasyaf (penyingkapan), tajliyat (penampakan) serta melakukan kontak langsung dengan Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka berdalil dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. "Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengganjari kepada kalian semua". [Al-Baqarah : 282].
Pemikiran ilmu laduni dipelopori oleh Hisyam Ibnu Al-Hakam (wafat 199H), seorang penganut Syi'ah yang mahir ilmu kalam. Ia berasal dari Kufah. Orang-orang sufi, dalam rangka merealisir ajarannya, menempuh beberapa jalan. Jalan terpenting itu, diantaranya :
[1] Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar'i. Dikatakan oleh Al-Junaid, seorang pentolan sufi, "Yang paling aku sukai pada seorang pemula, bila tak ingin berubah keadaannya, hendaknya jangan menyibukkan hatinya dengan tiga perkara berikut : mencari penghidupan, menimba ilmu (hadits) dan menikah. Dan yang lebih aku sukai lagi, pada penganut sufi, tidak membaca dan menulis. Karena hal itu hanya akan menyita perhatiannya".
Demikian pula yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darani, "Jika seseorang menimba ilmu (hadits), bepergian untuk mencari penghidupan, atau menikah, sungguh ia telah condong kepada dunia."
[2] Menghancurkan sanad-sanad hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha'if (lemah), munkar dan maudhu' (palsu) dengan cara kasyaf. Sebagaimana dikatakan Abu Yazid Al-Busthami, "Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.
Hal itu seperti yang telah disampaikan para pemimpin kami : "Telah mengabarkan pada aku hatiku dari Rabbku". Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : "Telah mengabarkan kepada kami Fulan". Padahal, bila ditanya dimana dia (si Fulan tersebut) ?.
Tentu akan dijawab : "Ia (Fulan, yakni yang meriwayatkan ilmu atau hadits tersebut) telah meninggal". "(Kemudian) dari Fulan (lagi)". Padahal, bila ditanyakan dimana dia (Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : "Ia telah meninggal". Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, "Ulama Tulisan mengambil peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga hari kiamat.
Itulah yang menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak antara nasab mereka. Sedang para wali mengambil ilmu dari Allah (secara langsung). Yakni, dengan cara Ia (Allah) mengilhamkan kedalam hati para wali". Dikatakan oleh Asy-Sya'rani, "Berkenan dengan hadits-hadits. Walaupun cacat menurut para ulama ilmu hadits, tapi tetap shahih menurut ulama ilmu kasyaf".
[3] Menganggap menimba ilmu (hadits) sebagai perbuatan aib dan merupakan jalan menuju kemaksiatan serta kesalahan. Ibnu Al-Jauzi menukil, bahwa ada seorang syaikh sufi melihat seorang murid membawa papan tulis (baca : buku), maka dikatakannya kepada murid tersebut :"Sembunyikan auratmu". Bahkan, mereka saling mewariskan sebagian pameo-pameo yang bertendensi menjauhkan peninggalan salaf, umpanya : Barang siapa gurunya kitab, maka salahnya lebih banyak dari benarnya.

Sanggahan Terhadap Pernyataan-Pernyataan Sebagaimana Diungkap Diatas :
Pertama: Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dengan kemampuannya dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti keadaan nabi Khidir dengan nabi Musa, maka ia telah kafir berdasarkan ijma' para ulama kaum muslimin. Karena, nabi Musa tidaklah diutus kepada nabi Khidir, dan tidak pula nabi Khidir diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa.
Padahal Allah telah menjadikan masing-masing nabi mempunyai jalan dan minhaj yang berbeda-beda. Dan peristiwa yang demikian itu, berulang kali terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi. Seperti, sezamannya nabi Luth denga nabi Ibrahim, nabi Yahya dengan nabi Isa.
Sesungguhnya para nabi tersebut dibangkitkan untuk kaumnya saja, sedangkan Muhammad shalallallahu 'alaihi wa sallam dibangkitkan untuk seluruh manusia hingga hari kiamat. Telah bersabda Shallallahu 'alaihi wa sallam. Artinya: "Adalah para nabi diutus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim].
Artinya: "Tidak seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik Yahudi atau Nashrani, kemudian tidak beriman kepadaku, melainkan akan dimasukkan ke neraka" [Hadits Shahih Riwayat Muslim I/93]
Aqidah semacam ini merupakan asasnya Islam, berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Artinya: "Tidaklah engkau Kami utus kecuali untuk seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan". [Saba' : 28]
Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Artinya: "Katakanlah, wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua". [Al-A'raf : 157]
Dan siapa saja yang 'alim, baik jin maupun manusia, diperintahkan untuk mengikuti rasul yang ummi ini. Maka barangsiapa yang mengaku bahwa dengan kemampuannya dapat keluar dari minhaj dan petunjuk nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ke minhaj lainnya, walaupun minhaj Isa, Musa, Ibrahim, maka dia sesat dan menyesatkan. Telah bersabda Shalallahu 'alaihi wa sallam. Artinya: "Seandainya Musa turun, lalu kalian semua mengikutinya dan meninggalkan aku, maka sungguh sesatlah kalian. Aku adalah bagian kalian, dan kalian adalah bagian dari umat-umat yang ada". [Riwayat Baihaqi dalam Syu'abu al-Iman, dan lihat pula dalam Irwa'al-Ghalil karangan Al-Bani hal. 1588]
Adapun keyakinan orang-orang sufi bahwa nabi Khidir masih tetap hidup, selalu berhubungan dengan mereka, mengajarkan kepada mereka ilmu yang diajarkan Allah kepadanya, seperti nama-nama Allah yang Agung, hal ini merupakan dusta dan mengada-ada. Karena menyelesihi Al-Qur'an secara nyata: Artinya: "Dan tidaklah kami jadikan seorang manusiapun sebelummu abadi". [Al-Anbiya' : 34] Artinya: "Tidak ada satu jiwapun yang bernafas pada hari ini yang datang dari zaman seratus tahun sebelumnya, sedangkan dia saat sekarang ini masih hidup". [Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Jabir]
Hadits-hadits yang menerangkan masih hidupnya nabi Khidir semuanya maudhu' (palsu) menurut kesepakatan seluruh ulama hadits.
Kedua: Adapun hujjah mereka dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Artinya: "Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu (ilmu)". [Al-Baqarah : 282]
Hal itu bukanlah hujjah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan pemahaman ayat ini dan telah menentukan cara mencari ilmu yang disyari'atkan dan diwajibkan atas setiap muslim. Seperti sabdanya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Artinya: "Sesungguhnya ilmu itu (diperoleh) dengan cara belajar". [Hadits Riwayat Daruquthni dalam Al-Ifrad wa al-Khatib dalam tarikhnya dari Abu Hurairah dan Abu Darda'. Lihat Silsilah Ash-Shahihah 342]
Kata innama (sesungguhnya) disini adalah untuk membatasi.
Ketiga: Perihal pendapat mereka yang menyatakan, bahwa mencari ilmu dengan cara belajar adalah jalan yang memayahkan, terlalu bertele-tele, dianggap condong kepada dunia serta menyita perhatian dan kesungguhan (walaupun telah tinggi dalam menuntut ilmu tadi), tetap dianggap tidak sempurna. Kecuali, bila ditempuh dengan cara kasyaf dan ilham.
Berkenan dengan ilmu itu sendiri, termasuk tentunya dalam pengamalannya. Bahkan sebatas mencari ilmu semata. Berkata Ibnu Al-Jauzi, "Iblis menginginkan untuk menutup jalan tersebut dengan cara yang paling samar. Memang jelas bahwa yang dimaksud adalah mengamalkannya bukan sebatas mencari ilmu saja. Namun, dalam hal ini para penipu itu telah menyembunyikan masalah pengamalannya. Dan tidaklah kasyaf yang mereka dakwakan itu, kecuali hanya khayalan setan belaka.
Artinya: "Maukah Aku khabarkan kepada kalian tentang kepada siapa setan turun ? (Setan) turun kepada setiap pendusta dan suka berbuat dosa. Mereka menghadapkan pendengarannya itu (kepada setan), dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta". [Asy-Syu'ara : 221-223]
Artinya: "Tidaklah kamu melihat bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghusung mereka agar berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh ? Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksaan bagi mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung (hari siksaan) itu untuk mereka dengan perhitungan yang teliti. Ingat ketika hari Kami mengumpulkan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga". [Maryam : 83-86]
Adapun pengakuan mereka, seperti pensyarah Al-Ushul katakan, bahwa kasyaf merupakan bagian dari iman yang benar. Dan maksud kasyaf adalah disingkapkannya sebagian yang tersembunyi, dan tidak tampak, mengetahui gerak-gerik jiwa dan niat serta kelemahan sebagian manusia. Kasyaf semacam inilah yang disebutkan dalam hadits syarif sebagai firasat seorang yang beriman. [11] Jadi bila ada perkataan mereka semacam ini : "Telah mengabarkan kepadaku hatiku dari Rabb-ku" tidak lain adalah perkataan khurafat.
Keempat: Sebagian mereka mengakku dapat melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam tidurnya, lalu mengajarkan kepadanya beberapa perkara dan memintanya untuk berbuat begini dan begitu. Seperti, kata Ibnu Arabi, "Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mimpi. Aku melihatnya saat sepuluh akhir di bulan Muharram 627H, di Mahrusah, Damsyiq. Saat itu di tangan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membawa kitab.
Maka sabdanya kepadaku, 'Kitab ini adalah kitab Fushush Al-Hikam'. Ajarkan dan sebarkan kepada manusia agar bisa memetik manfa'at darinya. Kemudian aku katakan, Aku dengar dan taat kepada Allah, Rasul-Nya serta ulil amri diantara kita sebagaimana yang engkau perintahkan. Maka, aku pun berusaha merealisasikan cita-cita dan aku murnikan niatku serta kubulatkan tekad untuk mengajarkan kitab ini sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. tanpa mengurangi dan menambahinya".

Bantahan Terhadap Pendapat Diatas Adalah Sebagai Berikut:
[1] Para Rasul tidak memerintahkan kemaksiatan apalagi kekufuran, seperti yang memenuhi kitab Fushush Al-Hikam. Seperti, mengkafirkan nabi Allah, Nuh (hal. 70-72), meyakini bahwa Fir'aun itu telah beriman (hal. 21), membenarkan pendirian Samiri dan perbuatannya dalam membuat patung (yang menimbulkan fitnah di kalangan bani Israil) hingga mengibadahinya (hal. 188).
[2] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyuruh menyelisihi syari'at. Sesungguhnya, ada yang mengatakan bahwa setan menampakkan diri dalam bentuk nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di hadapan Ibnu Arabi. Padahal mustahil hal itu bisa terjadi. Dia (Ibnu Arabi) telah tertipu dan terperdaya.
Walau ia mengatakan yang demikian itu dengan niat baik dan prasangka bersih. Tetapi yang demikian itu mustahil, karena setan tidak akan mampu menyerupai nabi. Maka, bagaimana hal itu bisa terjadi padahal Nabi yang ma'shum Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: Artinya : Barangsiapa yang melihatku (dalam mimpinya) maka sesungguhnya akulah dia. Karena "sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku". [Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah, mempunyai penguat yang sangat banyak, sebagiannya Shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Lihat Shahih Al-Jami' dan ziyadahnya V/293]

Minggu, 21 Oktober 2012

Pelajaran yang Tersirat dari Sebatang Pohon



 
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman… :
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak beriman.” [QS. Asy Syu’araa’ : 7, 8]

“……Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya…” [QS. Al Hadiid : 17]

“……Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir…” [QS. Jaatsiyah : 13]
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya ada sebuah pohon yang tidak berguguran daun-daunnya, yang ia menjadi simbol perumpamaan seorang muslim, Maka cobalah tebak pohon apa itu…?”.
Orang-orang pun berpikir tentang pohon-pohon yang ada di pedalaman, Abdullah (Ibnu Umar) berkata :
“Sebenarnya terbetik dalam hatiku bahwa pohon yang dimaksud adalah kurma, Akan tetapi aku malu mengutarakannya…”
kemudian  mereka (para sahabat) pun menanyakan : “Ceritakanlah kepada kami wahai Rasulullah, pohon apakah itu…?”
Beliau bersabda Shallallahu alaihi wa sallam : “Yaitu kurma...”. [HR. Bukhari di beberapa tempat dalam shahihnya… lihat Fath al-Bari (1/175)]

 “Pelajaran Apakah yang Tersirat dari Sebatang Pohon…?”
Dikisahkan suatu ketika,.. seorang Anak Muda bertanya kepada Orang Tua ahli agama yang Arif dan Bijak :
“Wahai Orang Tua… aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi anakku, keluargaku,
juga bagi sahabat-sahabat dilingkunganku. Apakah Bapak memiliki pesan untukku,  agar setiap kali aku memberikan nasehat dan berbuat, aku akan selalu teringat pesan bijaksanamu…?”
Orang Tua tersebut terdiam sejenak, lalu sambil tersenyum arif ia bertanya :
“Wahai Anak Muda… apakah anda pernah melihat pepohonan di sekitarmu…?”
“Ya, tentu saja Pak…” kata si Anak Muda itu…
Orang Tua tersebut bertanya kembali :
“Apakah anda benar-benar melihatnya, serta memperhatikan apa yang apa yang dilakukan pepohonan tersebut…?”
Si Anak Muda menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata :
“Setahu saya mereka diam saja dan tidak melakukan apa-apa…”
Orang Tua tersebut tersenyum lagi, lalu mulailah ia memberikan pesan dan nasehat kepada Anak Muda tersebut :
“Anak Muda,  jadilah seperti pohon… perhatikanlah… ia diam tak banyak bicara hingga kamu tidak menyadari apa yang dilakukannya… Padahal ia selalu memberimu udara untuk dihisap. Lihatlah bagaimana ia memberi udara pada semua orang, tanpa memandang apakah kamu miskin atau kaya atau apakah kamu lahir dari kelompok etnik tertentu dan ia memberi udara bagi semua orang tanpa memandang agama, ras dan suku bangsa…
pelajaran PERTAMA…
apakah kamu bersedia membagi ilmumu untuk semua orang tanpa pilih kasih…?”
“Anak Muda, jadilah seperti pohon… Ia tidak banyak berbicara tapi terus bertumbuh setiap hari… bila sudah tidak tumbuh lagi maka ia akan mati…
pelajaran ke DUA…
apakah dirimu merasa terus tumbuh…?”
“Anak Muda, jadilah seperti pohon… apabila pohon tersebut sudah menjadi besar, ia akan menaungi siapa saja yang berada dibawahnya, tak peduli itu manusia atau hewan, tak peduli kaya atau miskin…
pelajaran ke TIGA…
Apakah bila kamu merasa dirimu sudah semakin besar nanti, Maukah dengan ikhlas menaungi apa saja atau siapa saja yang berada dibawahmu…?”
“Anak Muda,  jadilah seperti pohon… yang selalu menyejukkan, memperindah dan mempercantik tempat-tempat gersang…
pelajaran ke EMPAT…
Apakah kamu mampu membuat kehadiranmu nantinya membuat hati-hati yang gersang menjadi sejuk dan indah kembali…?”
“Anak Muda, jadilah seperti pohon… Itulah kehidupan yang tumbuh ke atas dan berhasil melawan kuatnya gravitasi Bumi…
pelajaran ke LIMA…
Apakah kamu merasa dirimu telah berhasil melawan kuatnya godaan, dan tantangan yang akan terus seiring pertumbuhan dirimu untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari…?”
“Anak Muda,  jadilah seperti pohon… yang menyuburkan tanah di sekitarnya dan menyimpan air di bawahnya untuk kehidupan semua makhluk hidup lainnya…
pelajaran ke ENAM…
Apakah dirimu sudah belajar untuk mampu menyuburkan lingkungan sekitarmu…?”
“Anak Muda,  jadilah seperti pohon… Seandainya sudah mati pun tubuhnya masih berguna bagi kesuburan tanah… atau menjadi bahan baku tempat tinggal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia…”
pelajaran ke TUJUH dan yang PALING PENTING…
mampukah kita setelah meninggal nanti…
Ilmu dan Amal kita tetap dapat memberikan manfaat bagi Keluarga, Sahabat-Sahabat serta Lingkungan kita…?
Pertanyaan paling penting saat ini…
“Menurut kita (khususnya diri saya) apakah saat ini kita sudah lebih baik dari pohon…?”

Kamis, 04 Oktober 2012

Penantian Suci




Penantian adalah satu ujian 
Tetapkanlah ku slalu dalam harapan
karena keimanan tak hanya diucapkan 
adalah ketabahan menghadapi cobaan

Sabarkanlah aku menanti pasangan hati
Tulus kan kusambut sepenuh jiwa ini
Didalam asa diri menjemput berkahMu
Tibalah izinMu atas harapan ini

Rabbi teguhkanlah aku dipenantian ini
berikanlah cahaya terangMu selalu

Rabbi do'a dan upaya hambaMu ini
hanyalah bersandar semata kepadaMu

Rabbi ridhoilah penantianku ini
hadirkanlah ketentraman di dalam hati

Rabbi hanya padaMulah do'aku ini
duhai tempat mengadu segala resah diri,...

 
Back To Top