Setiap hari Jum’at, selepas menunaikan shalat
Jum,at, seorang Imam dan anaknya yang berusia 9 tahun selalu berjalan menyusuri
jalan di kota kecil itu dan menyebarkan artikel “Jendela Surga” dan beberapa
karya Islami yang lain.
Pada satu Jum’at yang indah, pada ketika Imam dan
anaknya itu hendak kelua…r seperti biasa membagi-bagikan Artikel Islam itu,
hari itu menjadi amat dingin dan hujan mulai turun.
Anak kecil itu mengenakan jas hujan seraya
berkata “Ayah! Saya sudah siap”
Ayahnya terkejut dan berkata “Siap untuk apa?”.
“Ayah bukankah ini saatnya kita akan keluar untuk
membagi-bagikan Artikel Risalah Allah”
“Anakku! Bukankah di luar hujan begitu lebat dan
udara sangat dingin”
“Ayah bukankah masih ada manusia yang akan
tersesat dan masuk neraka walaupun ketika hujan turun?”
Ayahnya menambah “Iya tapi Ayah tidak sanggup
keluar dalam cuaca begini”
Dengan merintih anaknya merayu “Ijinkan saya
pergi ayah?”
Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan
artikel-artikel itu kepada anaknya “Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah
bersamamu!”
“Terima kasih Ayah” Dengan wajah bersinar-sinar
anak itu pergi meredah hujan dan tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan.
Anak kecil itu pun membagikan artikel-artikel
tersebut kepada siapa pun yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk
setiap rumah dan memberikan artikel itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tersisa satu artikel
“Jendela Surga” ada pada tangannya. Dia merasa tanggungjawabnya tidak selesai
jika masih ada artikel di tangannya. Dia berputar-putar ke sana dan ke mari
mencari siapa yang akan diberi artikel terakhirnya itu namun gagal.
Akhirnya dia melihat satu rumah yang agak
menjorok kedalam dari jalan itu dan akhirnya dia melangkahkan kakinya
menghampiri rumah itu. Dan begitu sampai di depan rumah itu, lantas ditekannya
bel rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar dan ditekan sekali lagi namun tiada
jawaban. Diketuk pula pintu itu namun tidak juga ada jawaban.
Seolah ada sesuatu yang memeganginya sehingga
anak itu enggan pergi, mungkin rumah inilah harapannya agar artikel ini
diserahkan.
Dia mengambil keputusan menekan bel sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.
Dia mengambil keputusan menekan bel sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.
Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan
sekitar umur 50 tahun.
Mukanya suram dan sedih. “Nak, apa yang bisa ibu
bantu?”
Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah malaikat yang
turun dari langit.
“Ibu, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin
menyampaikan kabar gembira dari ALLAH karena sesungguhnya Allah amat sayang dan
senantiasa memelihara Ibu. Saya datang ini hanya ingin menyerahkan artikel
terakhir ini dan Ibu adalah orang yang paling beruntung”. Dia senyum dan tunduk
hormat sebelum melangkah pergi.
“Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu”
Dengan nada yang lembut.
Minggu berikutnya sebelum waktu shalat Jum’at dimulai,
seperti biasa Imam naik ke atas mimbar untuk memberikan informasi sekitar
masalah dan perkembangan yang terjadi di masjid itu. Sebelum selesai dia
bertanya ” Ada yang ingin bertanya sesuatu?”
Tiba-tiba ada yang bangun dengan perlahan dan
berdiri. Dia adalah perempuan separuh baya. “Saya rasa tidak ada yang mengenal
saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini. Untuk anda sekalian ketahui, bahwa
saya bukanlah orang islam.
Suami saya meninggal beberapa tahun yang lalu dan
meninggalkan saya seorang diri dalam dunia ini.” Air mata mulai bergenang di
kelopak matanya.”
“Pada hari Jum’at lalu saya mengambil keputusan
untuk bunuh diri. Jadi saya ambil kursi dan tali. Saya ikat ujung tali di
galang atas dan ujung satu lagi saya ikatkan di leher. Ketika saya mau terjun,
tiba-tiba bel rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya,
siapa pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi
lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan bel ditekan sekali lagi”.
“Saya jadi penasaran siapakah yang datang,
sehingga saya longgarkan tali di leher dan terus pergi ke pintu”
“Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak
yang secantik itu. Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti
malaikat”.
“Ibu, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin
menyampaikan kabar gembira dari ALLAH karena sesungguhnya Allah amat sayang dan
senantiasa memelihara Ibu” Itulah kata-kata yang paling indah yang saya
dengar”. (ucapan anak itu)
“Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan.
Saya kemudian menutup pintu dan terus baca artikel itu. Akhirnya kursi dan tali
kuletakkan kembali ditempat semula.
“Aku tak perlukan itu lagi”.
“Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang
yang bahagia, Di belakang artikel terdapat alamat ini dan itulah sebabnya saya
di sini hari ini dan saya ingin masuk islam. Jika tidak disebabkan malaikat
kecil yang datang pada hari itu tentunya saya sudah menjadi penghuni neraka”
Tak satu pun air mata di masjid itu yang masih
kering. Ramai pula yang berteriak dan bertakbir “ALLAHUAKBAR!”
Imam lantas turun dari mimbar dan memeluk anaknya
yang berada di kaki mimbar dan tak terasa air matanya pun mengalir
Hari Jum’at ini adalah hari paling indah dalam
hidupnya. Tiada anugerah yang amat besar dari hari ini. Yaitu anugerah yang
sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak laksana malaikat.
Biarkanlah air mata itu menetes. Air mata itu
anugerah ALLAH kepada makhluk-Nya yang penyayang.
0 komentar:
Jangan lupa tinggalkan komentar anda disini dan gunakan kata-kata yang baik dalam berkomentar
dan saya menolak debat kusir
terima kasih