Minggu, 08 Juni 2014

Mengobati Penyakit Gay Dan Homoseksual (Syariat Dan Medis)


Sebagian orang heran dan bisa jadi agak risih dengan orang yang mendapat ujian tertimpa penyakit seperti ini. Betapa tidak, wanita diciptakan begitu indah di mata laki-laki mengalahkan segala bentuk pemandangan dan panorama indah di dunia akan tetapi ia lebih condong kepada sejenis dan berpaling dari wanita? Begitu juga dengan wanita yang sejatinya haus akan kasih sayang dan belaian laki-laki tetapi mereka lebih condong terhadap sejenis (homoseksual-lesbian).
Penderita penyakit ini juga terkadang heran dengan diri mereka sendiri. Terkadang mereka menikmati penyakit ini tetapi ada juga yang tersiksa, ingin sembuh tetapi tidak bisa, ingin konsultasi dan berterus terang tetapi malu. Khususnya kaum laki-laki yang menjadi gay (homoseksual) lebih susah terapinya, wanita lebih mudah sembuh karena dilihat dari penyebabnya.umumnya wanita menjadi lesbian karena kurang perhatian dari laki-laki. Sebagaimana kaum wanita nabi Luth ‘alaihissalam yang menjadi lesbian karena kaum laki-laki mereka sudah menjadi homoseks dan berpaling dari wanita mereka.

Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya
Penderita penyakit ini perlu menanmkan keyakinan dengan kuat mereka pasti bisa sembuh. Terkadang mereka putus asa, karena laki-laki tentu lebih banyak bergaul dengan laki-laki misalnya di ruang ganti, kamar mandi. Mereka lebih mudah terpapar dan terfitnah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:
“Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)
Penyebab Penyakit Ini
Dalam ilmu psikologi, penyebab mejadi gay secara umum ada dua:
1.   Trauma Masa Kecil.
Ketika kecil pernah mendapatkan perilaku kekerasaan atau pelecehan seksual sejenis. Maka akan bisa memperngaruhi pola pikir dan orientasi seksual ketika dewasa.
Misalnya ketika kecil ia pernah di sodomi oleh kakaknya atau pamannya
2.   Menjadi Gay Karena Pelarian
Lari dari suatu masalah, misalnya seroang laki-laki pernah ditolak 7 kali oleh seorang gadis atau beberapa gadis menolaknya, atau putus dari kekasih yang sangat ia cintai. Ketika ia perlahan-lahan menjadi gay, ia merasakan kenyaman dan kebahagiaan sehingga ia benar-benar memutuskan menjadi seorang gay.

Terapi Psikologi Kedokteran
Adapun terapi secara psikologi dan kedokteran maka bisa ditempuh beberapa cara berikut:
1.   Menjauhi segala macam yang berkaitan dengan gay (homoseksual) misalnya teman, klub, aksesoris, bacaan dan segalanya. Ini adalah salah satu faktor terbesar yang bisa membantu.
2.   Merenungi bahwa gay masih belum diterima oleh masyarakat (terutama di indonesia), masih ada juga yang merasa jijik dengan gay. Terus menanamkan pikiran bahwa gay adalah penyakit yang harus disembuhkan.
3.   Terapi Sugesti
Misalnya mengucapkan dengan suara agak keras (di saat sendiri):
“saya bukan gay”
“gay menjijikkan”
“saya suka perempuan”
Bisa juga dengan menulis di kertas dengan jumlah yang banyak dan berulang, misalnya 1000 kali.
4.   Berusaha Melakukan Kegiatan Dan Aktifitas Khas Laki-laki
Misalnya olahraga karate atau bergabung dengan komunitas kegiatan laki-laki.
5.   Terapi Hormon
Jika diperlukan dengan bimbingan dokter bisa dilakukan terpai hormon secara berkala untuk lebih bisa menimbulkan sifat laki-laki.
6.   Menjauhi Bergaul Dengan Laki-laki Yang Menarik Hati
Dan Yang Paling terpenting adalah dukungan semua pihak, keterbukaan dan menerima masukan. Jangan sampai ada yang mencela didepanya atau mengejek perjuangannya dalam emngobati penyakit ini.

Bimbingan Islam dalam hal ini
Adapun bimbingan agama Islam yang sempurna dalam hal ini, maka beberapa hal ini perlu direnungi:
1.   Tulus dan bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah memohon kesembuhan, karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Berdoa di waktu dan tempat yang mustajab serta tidak mudah putus asa.
“Doa kalian pasti akan dikabulkan, selama ia tidak terburu-buru, yaitu dengan berkata: aku telah berdoa, akan tetapi tidak kunjung dikabulkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
2.   Segera Bertaubat kepada Allah
Karena segala sesuatu yang terjadi pada kita adalah akibat perbuatan dan kesalahan kita. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.” (QS As Syura: 30).
3.   Menyadari bahwa gay (homoseksual) adalah dosa besar dan dilaknat pelakunya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu).” ( QS An-Naml:54-55)
4.   Menjauhi segala sesuatu yang berkaitan dengan gay atau membuatnya menjadi kewanita-wanitaan atau menyerupai wanita.
Sebagaimana dalam hadits:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknati lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki, dan beliau bersabda: Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.” (Muttafaqun ’alaih)
5.   Jangan sering menyendiri, minta dukungan keluarga dan orang terdekat serta tetap bergaul dengan masyararat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya syetan itu bersama orang yang menyendiri, sedangkan ia akan menjauh dari dua orang.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
6.   Menjauhi makanan yang haram
Karena makanan bisa berpengaruh terhadap sifat manusia. Sebagaimana perkataan Ibnu Sirin: “Tidaklah ada binatang yang melakukan perilaku kaum Nabi Luth selain babi dan keledai.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad Dunya dalam kitab Zammul Malaahy)


Saya kutib dari tulisan dokter Raehanul Bahraen

Nasehat Syaikh Muhammad Hasan Dedew Asy-Syinqithi


Masalah: Adalah seorang pemuda yang multazim (berpegang teguh dengan ajaran-ajaran syar’i) akan tetapi kiranya para sahabatnya mencelanya dan menyakitinya karena dia meninggalkan berbagai keharaman. Apa nasehatmu dalam hal ini?
Nasehat Syaikh: “Sesungguhnya seorang anak manusia apabila dia menjalani jalan surga, jalan yang lurus adalah suatu kemestian dia akan mendapati kesukaran dan kesulitan, karena itulah nasehat Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah: “Sesungguhnya tidaklah datang seorang pun dengan membawa seperti yang engkau bawa kecuali dia akan dimusuhi, jikalau aku menemui masamu itu aku akan membelamu dengan pembelaan yang tangguh”.
Karena itu jika engkau mendapatkan kesukaran itu yang berasal karena engkau berpegang terhadap pondasi agama maka pujilah Allah dikarenakan hal itu, sebab itu menunjukkan tingkatan imanmu. Allah Ta’ala telah menjelaskan:
“Maka Tuhan mereka telah memperkenankan buat mereka bahwa sesungguhnya Aku tak akan mensia-siakan perbuatan orang yang beramal di antara kalian baik dari laki-laki ataupun wanita, sebagian kalian dari sebagiannya. Maka orang-orang yang berhijrah, yang dikeluarkan paksa dari rumah-rumah mereka, disakiti di jalanku, dan mereka berperang serta dibunuh sungguh telah aku tebus semua kesalahan mereka”.
Maka barangsiapa yang disakiti ketika dia berada di jalan Allah, sungguh dia telah mencapai suatu tingkatan keimanan dari jenjang-jenjang keimanan. Karena ini pula Imam Malik ketika di hukum cambuk berucap: “Aku memuji kepada Allah ketika aku di cambuk ini sebagaimana Muhammad bin Al-munkadir, Rabi’ah bin Abdurrahman juga telah dicambuk, dan tak ada kebaikan dalam perkara ini jika orang tersebut tidak dicambuk”.
Dalam riwayat yang lain disebutkan:
“Tak ada kebaikan jika seseorang berada dalam perkara ini (berpegang teguh pada ajaran syar’i) jika dia tidak disakiti.
Karena itu bagi pemuda itu jika sahabat-sahabatnya menyakitinya serta berbicara buruk tentangnya, ketahuilah itulah sunnah yang berlaku di antara manusia, mereka menyakiti para Nabi, para Shalihin dan orang-orang yang istiqomah dulu, maka janganlah dia merasa sempit hastanya sebab hal itu, bahkan semestinya dia memuji Allah dan meyakini bahwa apa yang terjadi adalah salah satu pertanda di antara tanda dia telah menjalani jalan hidayah dan jalan kebenaran.
(Demikian Jawaban Syaikh Muhammad Hasan)


Penulis Akhi Habibi Ihsan

Sabtu, 07 Juni 2014

Dalil Anjuran Makan Buah Sebelum Makanan Utama


Mungkin telah tersebar informasi adanya anjuran makan buah sebelum makan utama. Dan ini dinisbatkan kepada Islam atau ini adalah anjuran agama islam. Ternyata ini bukan HOAX dan ada beberapa ulama yang berpendapat demikian, diantaranya Imam An-Nawawi rahimahullah.
Memang benar secara kesehatan dianjurkan makan buah sebelum makan utama, karena lebih memudahkan penyerapan buah dan gizi yang terkandung di dalamnya dan tidak bersaing dengan penyerapan makanan utama serta bisa juga meningkatkan kadar glukosa darah. Akan tetapi ini efektif Jika Makan Buah 30 Menit Sampai 2 Jam Sebelum Makan Atau 1-2 Jam Setelah Makan.
Jika makan buah dulu, baru tidak berselang lama, langsung makan besar tanpa jarak waktu minimal 30 menit. Maka ini sama saja dengan makan buah setelah makan, buah akan bersaing penyerapan dengan makanan utama. Akan tetapi ada juga yang mengatakan, walaupun tidak 30 menit, minimal pencernaannya lebih utama buah dan lebih maksimal.
Terlepas dari pembahasan dari segi kesehatan, tetap saja kita harus menghormati saudara kita yang berpegang dengan pendapat ulama bahwa di antara adab makan adalah mendahulukan buah baru makan besar/pokok.
Berikut pembahasannya:

Dalil Makan Buah Sebelum Makanan Utama
Di antara dalilnya adalah surat Al-Waqi’ah, Allah ta’ala berfirman:

7pygÅ3»sùur $£JÏiB šcr玨y‚tGtƒ ÇËÉÈ   ÉOøtm:ur 9ŽösÛ $£JÏiB tbqåktJô±o„ ÇËÊÈ  

(20) dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, (21) dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (QS Al-Waqi’ah: 20-21)
Di antara ulama ada yang berdalil bahwa Allah menyebut buah dahulu baru daging sebagai dalil anjuran dalam islam, makan buah dahulu baru makanan utama.
 Al-Gazali rahimahullah berkata:
“Dianjurkan mendahulukan makan buah jika karena sesuai dengan ilmu kedokteran yaitu lebih cepat dicerna maka lebih baik buah lebih bawah (dalam perut) daripada hidangan (makanan pokok). Dalam Al-Quran ada peringatan untuk mendahulukan makan buah yaitu dalam firman Allah: ”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”.

Akan tetapi ada ulama yang TIDAK SETUJU dengan pendalilan seperti ini akan tetapi membenarkan bahwa adab makan mendahulukan buah dari makanan utama.
Syaikh Shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata:
“Yaitu mendahulukan buah daripada makanan utama lebih baik karena lebih cepat dicerna. Sebagian (ulama) berdalil dengan firman Allah pada jamuan penduduk surga dan mereka mendahulukan buah dari makanan utama.
Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginka
Akan tetapi ini tidaklah menjadi dalil, semata-mata menyebut sebagai ma’tuf (urutan) tidaklah menjadi dalil untuk mendahulukan buah. Kemudian (yang menjadi alasan juga) keadaan di surga berbeda dengan di dunia, sama saja mendahulukan buah sebelum makan atau makan sesudahnya, maka perkaranya lapang.”
Akan tetapi ada dalil yang lainya sebagaimna disebutkan oleh Imam AN-Nawawi rahimahullah:
 “Imam An-nawawi telah menyebutkan ketika menjelaskan hadits Abi Al-Haitsam bin Thihan tatkala ia datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ada Abu Bakar dan Umar. Ia membawa wadah yang berisi kurma basah dan kurma kering, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata:
‘makanlah ini (kurma), kemudian mengambil hidangan dan kemudian pergi
Imam AN-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sebagai dalil dianjurkannya mendahulukan makan buah, baru kemudian roti, daging dan makanan pokok lainnya.

Demikian semoga kita bisa bijak menyikapi hal ini dan menghormati saudara kita yang mengambil pendapat ulama yang berdalil dengan hal ini.
Demikian semoga bermanfaat

Saya kutib dari tulisan dokter Raehanul Bahraen

Selasa, 06 Mei 2014

Mereka Yang Meninggalkan Tasawuf : Syaikh Abdudzdzahir Abu Samah (Imam besar dan Maha Guru di Tanah Haram)


Syaikh Abdudzdzahir bin Muhammad Nuruddin Abu Samah, seorang Alim dari Al-azhar, pemuka para Imam dakwah yang menyeru kepada Sunnah di Mesir, juga Imam dan Guru besar di tanah Haram Mekkah. Betapa seringnya beliau disakiti karena sebab terangnya kebenaran yang beliau bawa hingga menerangi penduduk dunia ini sekalian. Mesjid beliau menjadi saksi penyerangan para pengecut yang tak mampu menyerang beliau kecuali ketika beliau berdiri sholat mengimami manusia yng seolah-olahnya ketika beliau sholat itu beliau beranjak dari negeri dunia ini menuju negeri akhirat.
Syaikh yang tak suka di puji ini -Rahimahulloh- dilahirkan di Kota Taliin, suatu kota di Mesir pada tahun 1300 H dari keluarga yang dikenal snagat perhatian dengan Al-Qur’an, baik hafalan atau pengajarannya. Sehingga Syaikh Abdudzdzahir ini menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya di usia Sembilan tahun dengan bimbingan orang tuanya. Selanjutnnya beliau bertekun di Al-Azhar membaca Qira’ah Sab’ah seiring dengan bertambahnya keinginan menghafal Sunnah, juga perhatian besar terhadap tafsir, fikih, bahasa dan ilmu-ilmu lainnya. Di masa kecilnya Syaikh Abdudzdzahir ini sering hadir di majelis Syaikh Muhammad Abduh.
Setelah bertahun-tahun lamanya beliau menuntut ilmu beliau berjumpa seorang Alim yang di sebut dengan Al-‘Allamah Syinqith yaitu Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy -Rahimahulloh- hingga kebenaran menyentuh hatinya maka hati itu pun bercahaya dengan cahaya aqidah salafiyah. Beliau pun bertekun menelaah kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan yang sejalan dengan kedua Imam ini. Kembali kepada kebenaran serta mengikut dalil. Dan adalah hal yang sangat mendukung beliau penguasaannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta diri beliau yang siap sedia menerima kebenaran.
Di suatu masa beliau beraktivitas di sebuah madrasah di daerah Suwais selanjutnya kembali ke Kairo menuntut ilmu di Madrasah Dar Ad-da’wah. Beberapa lama kemudian beliau dipercaya sebagai pengajar di Iskandaria, dan di sanalah beliau berdiri tegak menyeru dakwah, menerangi kegelapan, merobohkan bangunan-bangunan prasangka, membebaskan manusia dari penyembahan sesame hamba kepada hanya menyembah Tuhan para hamba itu, merangsak maju terhadap penyeru kemusyrikan serta menghancurkan kemusyrikan mereka itu, mendebat ahli bid’ah hingga bid’ah-bid’ah itu bertanggalan, menolong ahlussunnah serta meninggikan bendera mereka. Adalah dakwahnya Syaikh Abdudzdzahir ini adalah sebab terangkatnya kebodohan , beliau menjauhkan hamparan para peminta-minta dalam buruknya kesyirikan yang mereka lakukan, hingga menjadi berkurang mereka-mereka yang suka menziarahi masyhad (tempat ziarah penganut tasawuf), sebaliknya bertambah banyak orang-orang yang sholat di mesjid, menjauhi kesyirikan yang menghamba,untuk selanjutnya mengangkat tinggi bendera tauhid. Dan syaikh ini termasuk pengasas gerakan Anshorus Sunnah Al-Muhammadiyah di Iskandaria.
Tentu saja perjuangan beliau ini akan memunculkan penentangan, ini suatu kemestian. Bahkan ternnyata yang menentang membawa gangguan yang luar biasa. Yang paling besar di antara penentangan itu gangguan yang dilaksanakan ketika mengimami sholat di Mesjid yang dilakukan oleh para pengagum masyhad dan kuburan, dari para sufi dan yang sejalan dnegan mereka. Bagi mereka tak ada penghormatan bagi rumah-rumah Allah atau bagi mereka yang berada dihadapan Allah. Adalah sebab gangguan mereka ini dari apa yang telah kita ceritakan berupa kesungguhan beliau dan penelanjangan beliau terhadap hakikat para sufi, para pengagum masyhad dan tempat-tempat ziarah yang berisi kemusyrikan, pembatalan beliau terhadap aqidah Asy’ariyah, dan terutama sekali karena Syaikh Abdudzdzahir ini sangat mengetahui dengan keadaan mereka, beliau -sebelumnya-adalah panutan mereka hingga Allah yang bersifat Al-Haady dan Al-Qadiir menunjuki beliau. Allah menjaga beliau dari kejahatan dan rencana buruk mereka, dan sesungguhnya tipu daya kebatilan adalah suatu hal yang akan binasa.
Di antara orang yang menerima cahaya kebenaran dengan debat, kesungguhan dan ketegaran yang beliau pegang yaitu sejumlah besar Maha Guru (Masyayikh) di Al-Azhar, salah satunya bahkan yang paling menonjol seorang Alim dari Al-Azhar ini yang juga termasuk Ahli bait Nabi Shollallahu alaihi wasallam, Syaikh Ahli Hadits Muhammad Abdurrazzak Hamzah. Sebelumnya dalam rentetan perdebatan yang berkepanjangan akhirnya beliau menggenggam kebenaran, menjadikan dalil sebagai ikutan hingga Syaikh Muhammad Abdurrazzak ini menerima dakwah sekaligus mendakwahkannya.
Satu hal yang perlu dicatat dari beliau -walaupun amal kebaikan beliau melimpah ruah, beliau sangat tak suka di puji, hal ini pernah beliau sebutkan ketika mengomentari biografi beliau yang di muat di salah satu kitabnya. Beliau berkomentar : “Salamun ‘Alaik, Amma ba’du. Sungguh telah sampai kepadaku kitabmu yang hampir-hampir aku tak mampu menengoknya disebabkan apa yang engkau muat dari riwayat hidupku hingga aku letakkan dua tanganku menutupi wajahku karena malu, sungguh engkau telah memakaikan pakaian yang besar menutupi dengan pujian dan sanjungan berlebih yang aku tak pantas mendapatkannya….”
Setelah gigihnya kesungguhan perjuangan yang luar biasa ini dunia pun mengenal beliau, mengenalnya sebagai seorang alim yang memberikan nasehatnya, mendebat dan mengalahkan, debu-debu tak sanggup merintangi beliau, tidaklah berhadapan dengan beliau seorang penuntut kebenaran melainkan dengan perdebatan dengan beliau itu menjadi terbuka hatinya menerima kebenaran yang beliau bawa, sebagaimana tidaklah mendebat beliau seorang ahlul bathil kecuali tersadar diri dan kebathilannya berjatuhan. 
Hingga akhirnya di suatu ketika Syaikh Abdudzdzahir di percaya sebagai Imam di tanah Haram Mekkah, sebagai Maha Guru pengajar di Masjidil Haram juga di Darul Hadits Mekkah Al-Mukarromah. Beliau pun memegang kepercayaan ini bersama orang kepercayaan beliau, yaitu murid sekaligus sahabat juga menantunya yaitu Syaikh Abdurrazzak Hamzah. Kedua tokoh ini melahirkan banyak gelombang Ulama yang ‘aamiliin, dan mendapat petunjuk dari dakwah keduanya sejumlah besar penuntut ilmu yang tersesat di lembah kesyirikan dan kebid’ahan. 
Selalu dan selalu Syaikh Abdudzdzahir ini mennyebar al-haq, meremuk redamkan kebathilan dengan pengajaran dan tulisannya . Banyak sekali risalah yang beliau tulis, di antaranya : Ar-risalah Al-Makkiyah fir-raddi ’ala Ar-risalati Ar-ramliyah, Hayatul Quluub bi du’ai ’Allamil Ghuyuub, Al-auliaa, Al-karomaat.
Dan adalah Syaikh Abdurradzdzak Abu Samah ini termasuk pengasas gerakan Jama’ah Anshorus Sunnah Al-Muhammadiah di Mesir, selain termasuk dari pengasas Darul Hadits di Mekkah Al-Mukarromah. Konsisten di jalan ini hingga beliau wafat di Mesir tahun 1370 H. Semoga Allah mengampuni dan merahmati beliau, mengangkat derajatnya di ’Illiyyiin. Dan aku akhiri cerita singkat tentang beliau ini dengan bait-bait Nuniah yang pernah beliau gubah menunjukkan kesyukuran beliau terhadap semua nikmat yang beliau rasa :
Segala puj bagi Allah yang menunjukiku suatu karunia yang sebelumnya aku berada ditepian nereka.Demi Allah jikalau seluruh anggota tubuhku mengucap syukur wahai Tuhanku sepanjang masa, tidaklah itu bagiku kecuali suatu kelemahan dan kekurangan di banding kesyukuran yang semestinya aku haturkan.
Engkau kuatkan diriku, engkau tolong dan engkau pelihara dari semua gangguan orang yang dengki dan berniat jahat. Engkau hinakan musuh-musuhku serta tak Engkau luluskan rencana mereka menyakiti dan meyemai permusuhan denganku. Telah Engkau wariskan buatku dzikir yang bijak sebagai keutamaan serta engkau karunia aku dengan beragam nikmat tanpa mampu aku mengira-ngiranya.
Engkau angkat cerita tentang diriku ketika mereka ingin mencampakkannya. Dan Engkau siapkan untuk diriku semulia-mulia tanah air. Engkau diamkam diriku di antara Hathim dan zamzam, serta menjadi Imam bagi mereka yang bertaqwa. Engkau muliakan diriku , tunjuki serta memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki dari mereka yang tersesat dan linglung. Apakah kepada dirimu mereka yang memendam dengki berani menggugat? Orang yang bersikeras padahal dirimu penuh kebaikan.Orang yang dzalim padahal diriMu sepaling adil orang yang bersikap adil. Jauh sekali diriMu dari kedzaliman dan aniaya. 
Dan jikalah bukan karuniaMu tiadalah aku mampu walaupun punya kesempatan. Karena itu sempurnakanlah nikmatMu yang telah Engkau karuniakan wahai Sebaik-baik Dzat yang diseru oleh semua lisan. Akhirilah dengan keberuntungan hambamu ini, sesungguhnya dia mengharap dalam kesendirian atau pun keramaian. Karuniakanlah baginya Jannatun Na’iim serta melihat wajahmu yang Agung beserta semua teman. Dan tolonglah Saudara Tauhid, penguasa tanah Arab Abdul Aziz, menangkan dia dari penyembah berhala. Dan pukullah belakang mereka yang menentang dengan pedangnya. Kecapkanlah bagi para penentang keburukan di setiap tempat.
Dan Kekalkanlah sholawat dan salamMu terhadap orang yang telah Engkau utus dengan Syari’at keimanan, juga buat keluarga dan sahabatnya selama bintang gemintang masih bermunculan, tak lupa teruntuk tabi’iin yang kebaikan menyertai mereka selalu. (Selesai Goresan kata Syaikh Abdudzdzahir)
Semoga bermanfaat Untukmu yang menginginkan berkibarnya bendera Tauhid di mana pun berada.


Penulis akhi Habibi Ihsan

 
Back To Top