Selasa, 18 Maret 2014

Karakter Penuntut Ilmu Gadungan



Diringkas dari kitab Akhlaqul ‘Ulama karya Al Ajurry -rahimahullah-, halaman 73.
Di antara karakter penuntut ilmu yang tercela adalah ia mencari ilmu dalam keadaan lalai dan hanya mencari ilmu yang bisa memenuhi hawa nafsunya. Jika ada yang bertanya, kenapa bisa demikian, maka kita jawab: Tujuannya dalam menuntut ilmu bukanlah karena menganggap hal tersebut wajib yang dengannya ia beribadah kepada Allah, memenuhi kewajiban yang Allah perintahkan dan menjauhi larangan Allah. Akan tetapi ia mencari ilmu supaya ia dikenal termasuk jajaran para penuntut ilmu.
Ia belajar hanya untuk riya’ (pamer), dan berdebat dengan orang lain supaya dikenal ilmunya, dan dianggap mumpuni dalam kepandaian berbicara.  Ia ingin lawan debatnya salah. Jika lawan debatnya benar, hal itu membuatnya sedih.
Dia senang memaksakan dalam beradu hujjah, menolak bahwa dirinya salah padahal ia tahu namun ia tidak mengakuinya, karena takut ia akan dicela karena kesalahannya.
Ia bergampang-gampangan dalam fatwa untuk yang ia senangi, dan bersikap keras terhadap yang tidak dapat memberinya manfaat.
Siapa saja yang mengambil ilmu darinya, maka tujuan utama yang ia harapkan adalah keuntungan duniawi.
Dan jika tidak didapatinya manfaat duniawi -dan hanya menfaat akhirat- dari yang belajar padanya, maka ia merasa berat atasnya.
Ia mengharapkan ganjaran  atas ilmu yang tidak ia amalkan, dan tidak takut atas akibat buruk dari ilmu yang tidak ia amalkan itu.
Ia mengucapkan kata-kata bijak, lalu ia mengira bahwa ia termasuk golongan orang-orang bijak. Ia tidak takut bahwa itu akan menjadi hujjah baginya jika ia meninggalkan pengamalannya. Semakin ia berilmu, semakin menambah rasa sombongnya dan kepura-puraan alimnya.
Jika banyak ulama di masanya yang dikenal dengan ilmunya, ia senang dan berharap jika ia disebut sebagai salah seorang di jajaran mereka. Jika seorang ulama ditanya mengenai suatu masalah dan ia tidak ditanya, ia berharap kalau ia juga ditanya sebagaimana yang lain juga ditanya. Padahal lebih utama baginya untuk memuji Allah karena ia tidak ditanya, sedangkan selain dia telah mencukupi.
Jika sampai padanya bahwa salah seorang ulama itu salah, dan ia yang benar, maka ia senang dengan kesalahan orang lain, dimana mestinya ia sedih jika saudaranya salah.
Jika ia ditanya sesuatu yang ia tidak tahu, ia berat untuk berkata “saya tidak tahu”, sehingga ia membebani diri pada sesuatu yang ia tidak bisa jawab. Jika ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih memberi manfaat pada kaum muslimin daripada dia, ia membenci kehidupan orang itu, dan tidak mengenalkannya pada manusia.
Kemudian ia mengetahui bahwa ia salah, namun berat untuk mengoreksi kesalahannya, dan malah menetap pada kesalahannya, karena tidak ingin martabatnya jatuh di depan para makhluq.
Sesungguhnya ujian yang menimpanya adalah kecintaan akan dunia dan pujian, serta kemuliaan dan kehormatan di kalangan manusia. Ia menghiasi dirinya dengan ilmu, sebagaimana wanita cantik berhias dengan baju untuk keduniawian. Dan bukannya menghiasi ilmunya dengan amalan.
Kita mohon ampun kepada Allah dan berlindung pada-Nya atas keburukan amalan kita. Allahul musta’aan.

Saya kutib dari catatan akhi Ristiyan Ragil P
Reaksi:

2 komentar:

  1. nice post gan,, sangat bermanfaat nihh,,

    koment back yaa www.ankurniawan.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Great post Brian, Thank you, http://digiworld55.blogspot.com/
    goodluck

    BalasHapus

Jangan lupa tinggalkan komentar anda disini dan gunakan kata-kata yang baik dalam berkomentar
dan saya menolak debat kusir
terima kasih

 
Back To Top