Senin, 10 Maret 2014

At Ta'aalum


Ta'aalum secara ringkas artinya sikap seorang yang tidak berilmu namun berlaku layaknya ahli ilmu. Sikap semacam ini tentu saja merupakan bencana baik bagi pelakunya maupun orang yang menjadi objek dari sikap sok tahunya itu. Imam Asy Syafi'i berkata dalam Ar Risalah:
"Wajib bagi setiap orang yang berilmu untuk tidak berkata kecuali seputar apa yang dia ilmui. Sungguh telah ada sebagian manusia yang membicarakan sebuah ilmu, yang seandainya ia menahan diri dari pembicaraan itu tentu lebih baik untuknya, dan lebih selamat baginya, in syaa Allah."
Demikianlah perkataan beliau mengenai orang yang berilmu, maka bagaimana dengan orang awam yang jahil..? Tentu lebih wajib bagi mereka menahan diri. Imam Ibnu 'Abdil Barr berkata dalam Jami' beliau:
"Sekiranya orang yang tidak tahu itu diam, niscaya akan sedikit perselisihan."
Ta'aalum bisa terjadi pada beberapa perkara, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab beliau (At Ta'aalum), yaitu pada: fatwa, keputusan hakim, penulisan buku, tafsir, hadits, dan fiqih.
Adapun bentuk ta'alum sendiri juga beragam. Salah satu contohnya adalah tatabbu' ar rukhash, yaitu sikap mencari-cari dan mengumpulkan pendapat ulama yang ringan atau yang mencocoki kepentingannya saja, bahkan tak peduli jika yang diambil adalah pendapat yang jelas lemah dalil dan istidlal-nya, serta syadz (asing, menyelisihi nash).
Ibnu Hazm misalnya, menghalalkan musik namun beliau mengharamkan dengan keras mencukur jenggot bahkan menyatakan itu sebagai ijma'. Imam empat madzhab mengharamkan musik, dan yang paling keras adalah Abu Hanifah, namun beliau membolehkan nikah tanpa wali. Ada lagi ulama yang keras dalam masalah isbal (menurunkan kain di bawah mata kaki), namun ringan dalam masalah hukum cadar. Dan sebagainya.
Nah, ketika ada seorang penuntut ilmu yang berpendapat bolehnya cukur jenggot, halalnya musik, mubahnya isbal, dan bolehnya menikah tanpa wali, maka saat itulah ia telah melakukan tatabbu' ar rukhash alias cari-cari pendapat yang paling ringan. Karena tidak satu ulama pun sebelumnya yang berkumpul padanya pendapat-pendapat itu, dan ia memilih pendapat itu bukan karena kuatnya dalil yang mendasarinya.
Syaikh Shalih As Suhaimi ketika memberikan penjelasan atas kitab At Ta'aalum, memberikan beberapa penyebab seseorang melakukan hal ini. Bisa jadi karena menuruti hawa nafsu sendiri, atau faktor lain misalnya untuk mendekati penguasa, atau mengharapkan harta, atau mencari popularitas. Karena dengan terkenalnya dia sebagai “ulama” atau ustadz yang pendapatnya serba ringan, maka orang-orang bodoh akan tertarik padanya karena mendapatkan pembenaran atas perbuatan mereka. Demikian penjelasan Syaikh yang dapat didownload di sini .

Fenomena menyedihkan pada masa sekarang yang dapat kita saksikan, beberapa orang yang di-ustadz-kan oleh pengikutnya mencari-cari pendapat ulama yang mencocoki pemahaman harakah mereka. Dengan bermodalkan software semisal maktabah syamilah, islamweb, dan sejenisnya, tentu akan mudah menemukan berbagai pendapat ulama dengan satu atau dua kata kunci dalam satu kali klik. Sehingga terlihat seolah ia seorang faqih yang telah lama bergelut dengan kitab-kitab kuning, padahal bisa jadi pendapat yang ia temukan sebagai pembenaran itu, dikemukakan oleh ulama yang bahkan namanya belum pernah ia dengar sebelumnya..!
Maka dari itu, solusi untuk menghindari sikap ta'aalum, khususnya tattabbu' ar rukhash, adalah mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Bahwa kita menuntut ilmu karena Allah memerintahkan kita untuk itu, dan meniatkan ilmu itu untuk kita amalkan.
Perlu juga kita sadari bahwa agama ini datang untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh, maka jika kita mengamalkan pendapat yang ringan-ringan saja dan serba halal, akan hilanglah agama kita perlahan-lahan. Selain itu, Allah menghendaki keringanan untuk kita, bukan dengan menyuruh kita mencari-cari ketergelinciran ulama, tapi dengan mengamalkan pendapat yang paling kuat dan mententramkan hati kita. Bukankah kebajikan itu apa yang menenangkan hati, sedangkan dosa itu apa-apa yang meragukan kita? Bagaimana jiwa akan tenang dan hati terasa ringan, jika apa yang kita amalkan ternyata masih kita landasi dengan pemuasan hawa nafsu? Tentu jiwa yang hanif (lurus) tak akan kuasa terbebani dengannya.
Semoga Allah menjadikan kita semua hamba yang taat dan tunduk kepada-Nya. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah pada Rasulullah, keluarga beliau, para sahabat, serta orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat.


Saya kutib dari catatan akhi Ristiyan Ragil P
Reaksi:

0 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar anda disini dan gunakan kata-kata yang baik dalam berkomentar
dan saya menolak debat kusir
terima kasih

 
Back To Top