Jumat, 08 Agustus 2014

Tantangan Anak pada abad 21


Data dan fakta : Usia psikologis anak sekarang, setengah dari usia biologisnya.
Profil anak zaman sekarang :
1.   Lemah fisik
2.   Lemah mental
3.   Lemah pola pikir
4.   Lemah finansial
5.   Lemah mental dan spiritual.
Alay : tidak punya pendirian, ikut-ikutan teman saja agar diterima. Mudah dipengaruhi, gerakan minimalis, tidak berani menatap, dst. Takut sendiri dalam kebenaran, walau tau. Dan lebih mending rame-rame dalam kesalahan.

Tantangan anak dari luar :
1.   Pola makan dan prestasi instant
2.   Tidak melatih kesabaran dan berproses
3.   Kebutuhan materi yang semakin tinggi
4.   Ayah dan bunda bekerja, anak sendirian
5.   Teknologi yang semakin pesat
6.   Mematikan kreatifitas dan pola pikir jika mereka hanya mengkonsumsi atau menggunakannya saja
7.   Bisnis syahwat yang merajalela
8.   Narkoba.
Orangtua kadang mengasuh anak menjadi generasi yang steril sehingga menjadikan anak karakter text book daripada dipraktekkan .
Kondisi anak-anak kita : BLASTED
1.   Bored (bosan)
Pola Rutinitas kehidupan yang bisa diketahui dan biasa di ulang-ulang, sehingga membuatnya menjadi bosan oleh karena itu fungsi orangtua harus lebih, sebagaimana TIMER daripada PARTNER dan ENTERTAINER.
Hiburan bagi anak seperti makanan, kalau tdk dikenyangkan di rumah, maka mereka akan "jajan" di luar.
Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasalam kalau pagi, beliau suka bertanya dengan yang ringan-ringan dan memberi motivasi, bukan yang bertanya yang berat, sulit, dan rutin seperti menanyakan tentang mimpi semalam.
Ibnu sirin, beliau adalah orangtua yang tidak bisa menakwil mimpi, sehingga beliau belajar berkata-kata yang positif.
Contoh sederhana agar tidak bosan, masak tempe dengan bentuk yg lain. Bentuk huruf misalnya.
Opini : Bisa jadi anak yan rajin sholat namun terkena pornografi dan narkoba, bukan karena sholatnya. Tapi karena bosan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkata sa’atan sa’atan adalah maksudnya hidup dinamis.
Anak yang bosan itu akan cenderung berbuat negatif untuk membuang kebosanannya.
Ciri rumah tangga surga adalah cukupkan tertawa dan banyak ceria.

2.   Lonely (kesepian)
Kesepian jiwa meskipun banyak harta. Kehidupan di rumah atau bersama keluarga ibarat terminal yaitu hanya pemberhentian sementara, sehingga jarang ada percakapan, dan hanya basa basi.
Kalau rumah tangga penuh dengan buru-buru seperti itu, maka itu menandakan bahwa itu bukan keluarga yang sakinah. Tidak bisa benar-benar mendengar dan memahami perasaan.
Sehingga terjadi Parent Distrust (rasa tidak percaya pada orangtua). Karena tidak merasa ada ikatan batin dengan orangtua. Orangtua hanya mengurus badan anak saja, tapi jiwanya tidak diurus dan kosong, sehingga jangan heran jika anak lebih percaya pada orang lain.
Jiwa yang sepi amat mudah dihuni oleh siapapun, asal Happy, maka berhati-hatilah dengan setting rumah asosial, yang di dalam kamar terdapat kamar mandi, tivi, dan internet ( fasilitas full ).
Tanda anak ada masalah : Lama di kamar mandi, dan Jika bangun tidur kesiangan.
Rahasia orang kampung ramah-ramah, karena jamban ada di belakang rumah, karena jadi tempat ngobrol dengan tetangga. (Psikolog UI).
Fakta :
Banyak ribuan tweet anak yang memaki orangtua, karena masalah ini. (Screen capture)
Cari kata kunci "bangsat", akan banyak cacimaki itu ditujukan dari anak ke bundanya.
Fase 2 tahun adalah fase emotional bonding (ikatan emosional) si anak. Oleh karena itu anak harusnya disusui selama 2 tahun secara langsung, dan termasuk kesalahan jika orangtua memberikan asi lewat botol.
Fungsi orangtua : Ayah menegakkan aturan dan ibu menenangkan, kalau dibalik, maka anak bosan di rumah karena ibunya kebanyakan mengurus aturan daripada memahami perasaan anak.
Otoritas aturan itu harus di tangan ayah dan yang menegakkannya, bukan ibu. (Konsep dasar), sehingga anak bisa ke ibu, tidak ke org lain.

3.   Angry (marah)
Anak gampang marah dan takut. Mentalnya kabur, bunuh diri juga akibat dari hal ini, anak menjadi tidak rasional, hanya berdasarkan otak reptil otak otak refleks. Anak marah karena kehilangan fiqur, sejak kecil biasa diancam dan ditakut-takuti, ini men stimulus otak reptil.
Contohnya seperti :
1.   Diancam dan ditakut-takuti
2.   Desibel suara tinggi dan berteriak.

Kasus tuhan Cherrybelle, ternyata adminnya adalah anak PSK (Penonton Studio Komersil), anak-anak semacam itu di iming-imingi untuk penggembira tivi, akibatnya:
1.   Ingin masuk tivi
2.   Ketemua artis
3.   Berpeluang menjadi artis
4.   Dikasih honor.
Dan ternyata admin tuhan cherrybell ada 11 orang, 8 muslim, 3 non muslim, motifnya hanya agar terkenal, nanti kalau ketahuan tinggal tobat.

4.   Stress atau Tired (tertekan)
Beban pikiran tidak sesuai usia (tertekan), indikasinya gerakan dan ekspresinya minimalis dalam segala suasana. Faktor pendorongnya lebih sering dengan cara diancam daripada diberi kabar gembira, sehingga mencetak generasi BISA beragama tapi TIDAK SUKA beragama.
Ada kisah ustadz, yang ayahnya seorang hafiz dan dosen, akan tetapi anaknya lepas jilbab, sehingga anaknya beragama dan beribadah karena takut dan merasa tidak enak dengan ayahnya. Ini salah satu dampak menanamkan stress dan ketakutan kepada anak.

5.   Father Hunger (Ketiadaan ayah)
Ketiadaan Ayah secara psikologis, akan membuat figur seorang ayah tidak ada dan certia ayah dapat dilihat dari figur seorang ibu, sehingga anak menjadi lebay dan cabe-cabean, karena anak melihat figur ayahnya terdapat pada ibunya.
Fungsi ayah menjadi hanya untuk memberi nafkah dan memberi izin untuk menikah. Faktanya 75% wanita di indonesia menggugat cerai suaminya (penelitian departemen agama), ini dikarenakan anak wanita tidak melihat sosok lelaki yang baik pada ayahnya (lelaki pertama yang dikenalnya). Oleh karena itu wanita mudah untuk minta cerai karena dia tidak ada pengalaman mempunyai ayah yang baik.
Kalau anak laki-laki, maka biasanya jika trauma dengan ayahnya maka dia akan menjadi anak yang melambai atau banci.
Dampak kerusakan psikologis anak-anak yang tidak mengenal ayahnya :
1.   Rendah harga diri anak
2.   Bertingkah kekanak kanakan
3.   Terlalu bergantung
4.   Kesulitan menetapkan identitas seksual
5.   Kesulitan dalam belajar
6.   Kurang bisa mengambil keputusan
7.   Untuk anak perempuan, dia akan cenderung salah memilih pasangan karena dia tidak mempunyai figur.
Ibnu qoyyim berkata : "Jika anda amati kerusakan pada anak-anak, pada umumnya berasal dari sisi ayahnya" (tuhfatul maudud)
Paradigma baru pengasuhan "Ibu adalah madrasah pertama anak, dan Ayah adalah kepala sekolahnya"
Fungsi ayah :
1.   Harus membuat sekolahnya nyaman
2.   Menentukan visi misi evaluasi dan eksekusi program.

Saya kutib dari akhi Kautsar Amru dengan sedikit editan dari saya.
Reaksi:

0 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar anda disini dan gunakan kata-kata yang baik dalam berkomentar
dan saya menolak debat kusir
terima kasih

 
Back To Top