Selasa, 14 Januari 2014

Mengenal Ummahaatul Mu'miniin


Definisi Ummahaatul Muminiin :
Para ulama ahli fiqih mempergunakan istilah ummahaatul muminiin untuk :
كل امرأة عقد عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم ودخل بها ، وإن طلقها بعد ذلك على الراجح
"Setiap wanita yang terikat dengan aqad (nikah) kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan telah terjadi dukhul (jima), walaupun terjadi thalaq setelahnya menurut pendapat yang rajih." 1
Dari sini diketahui, bahwa apabila telah terjadi dukhul akan tetapi tidak ada aqad didalamnya maka tidak dimutlakkan istilah ummahaatul muminiin untuknya, semisal bagi Mariyyah Al Qibthiyyah, begitu juga dengan wanita yang telah terjalin aqad didalamnya akan tetapi belum terjadi dukhul.
Istilah ummahaatul muminiin ini terambil dari firman Allah ta'ala:
وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
" ...dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka..." (QS Al Ahzab : 6)

Jumlah Ummahaatul Muminiin
Wanita yang telah terjadi aqad (nikah) dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan telah terjadi dukhul padanya berjumlah dua belas orang dan merekalah yang dimutlakkan istilah ummahaatul muminiin yaitu (dan penomoran ini berdasarkan tertib dari dukhulnya) :  
1.        Khadijah bintu Khuwailid  
2.        Saudah bintu Zam'ah (dan ada pula yang mengatakan bahwa terjadi dukhulnya setelah Aisyah )  
3.        Aisyah bintu Abi Bakar Ash Shiddiq  
4.        Hafshah bintu Umar bin Khathab  
5.        Zainab bintu Khuzaimah Al Hilaliyyah  
6.        Ummu Salamah Hindun bintu Abu Umayyah  
7.        Zainab bintu Jahsyi  
8.        Juwairiyyah bintu Al Harits Al Khuzaiyyah  
9.        Raihanah bintu Zaid bin Amru  
10.   Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan  
11.   Shafiyyah bintu Huyai  
12.   Maimunah bintu Al Harits Al Hilaliyyah.
Dan ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat beliau meninggalkan sembilan orang istri yakni : Saudah, Aisyah, Hafsah, Ummu Salamah, Zainab bintu Jahsy, Ummu Habibah, Juwairiyyah, Shafiyyah dan Maimunah. Dan terjadi khilaf diantara para ulama tentang Raihanah : ada yang mengatakan bahwa dukhulnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam padanya adalah dukhul nikah, dan ada yang mengatakan bahwa dukhul tersebut bukan nikah, akan tetapi pendapat yang rajih adalah pendapat yang awal. 2

Sifat-sifat yang Harus Ada Pada Diri Ummahaatul Muminiin :
1.   Islam
Tidak dijumpai satupun dari ummahaatul muminiin dari golongan ahli kitab,  bahkan mereka seluruhnya muslimah muminaah, dan telah disebutkan dari pendapat Al Malikiyyah dan Asy Syafi'iyyah bahwa diharamkan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikahi wanita ahli kitab, dikarenakan keagungan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk meletakkan nutfahnya didalam rahim seorang wanita ahli kitab. 3

2.   Wanita merdeka
Tidak ada diantara ummahaatul muminiin yang berstatus sebagai budak, bahkan seluruhnya mereka adalah wanita yang merdeka. Al Malikiyyah dan Asy Syafi'iyyah berpendapat akan keharaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikahi seorang budak wanita walaupun dia muslimah. 4

3.   Tidak ada penghalangnya untuk hijrah
Allah ta'ala telah mengharamkan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menikahi wanita yang tidak bersedia berhijrah walaupun mereka muslimah muminah, sebagaimana Allah ta'ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ
"Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu..." (QS Al Ahzab : 50)

Imam At Tirmidzi mengeluarkan hadits yang sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dilarang dari beberapa jenis wanita : kecuali dia seorang mukminah yang berhijrah."  ( HR Imam At Tirmidzi dan beliau menghasankannya ) 5

Imam Abu Yusuf - dari kalangan Hanafiyyah - berkata :
لا دلالة في الآية الكريمة على أن اللاتي لم يهاجرن كن محرمات على الرسول عليه الصلاة والسلام ؛ لأن تخصيص الشيء بالذكر لا ينفي ما عداه 
"Tidak terdapat dalil dari ayat ini (QS Al Ahzab : 50) atas terlarangnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikahi wanita yang tidak berhijrah, dikarenakan pengkhususan terhadap sesuatu yang disebutkan tidaklah menafikan apa-apa yang tidak disebutkan." 6

Dan diperbolehkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikahi wanita Anshar (dimana mereka tidak berhijrah) seperti : Shafiyyah dan Juwairiyyah. Dalam Musnad Imam Ahmad dari Abu Barzah radhiyallahu 'anhu berkata :  "Bahwa kaum Anshar, apabila mereka memiliki anak perempuan - mereka tidak menikahkannya sampai mengetahui apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhajat kepadanya atau tidak." (HR Imam Ahmad) 7

Andai kata kaum Anshar tidak memiliki ilmu akan kebolehannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menikah dengan wanita dari kaum mereka niscaya mereka tidak menunggu untuk menikahkan putrinya.

4.   Jauhnya mereka dari kemungkinan berzina
Ummahaatul muminiin sehubungan dengan status mereka sebagai istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka jauhnya mereka dari zina dan kemungkinan berzina, dan inilah konsekuensi dari firman Allah ta'ala :
وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
" ...wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik..." (QS An Nuur : 26)

Adapun tuduhan yang dialamatkan kepada Aisyah, maka Allah ta'ala telah membebaskannya dari tuduhan tersebut, sebagaimana terdapat didalam Al Qur'an surat An Nuur ayat ke-17.

Ummahaatul Muminiin Bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
Tidak menjadi hak bagi ummahaatul muminiin dalam pembagian bermalamnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan mereka dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak dituntut untuk itu. Boleh bagi beliau untuk mengutamakan siapa yang beliau kehendaki dari mereka, dalam bermalam, pakaian ataupun nafkah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta'ala:
تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ 
"Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki..." (QS Al Ahzab : 51) 
Dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad dari Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi (wafat tahun 108 H) beliau berkata :
كان رسول الله موسعا عليه في قسم أزواجه يقسم بينهن كيف شاء
"Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diberikan keluasan atasnya untuk membagi istrinya sesuai dengan pembagian yang beliau kehendaki." 8

Kedudukan Mereka Yang Tinggi : 
Apabila telah terjadi akad dan dukhulnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepadanya, maka telah dimutlakkan lafadz ummul muminiin dan muminaat  kepada mereka. Pendapat ini dikuatkan oleh Al Qurthubi berdasarkan firman Allah ta'ala :
 النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ
"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka..." (QS Al Ahzab : 6) 
Adapun pendapat yang lain, maka disebutkan bagi mereka ummul muminiin bukan ummul muminiin dan muminaat - dan ini dikuatkan oleh Ibnul Arabi, berdasarkan riwayat yang dia bawakan dari Aisyah radhiyallahu 'anha yang berkata seorang wanita kepadanya : "Wahai ibu." Maka berkata Aisyah :
 لست لك بأم ، إنما أنا أم رجالكم        
"saya bukan ibu kalian, akan tetapi aku adalah ibu dari laki - laki kalian." 9

Apakah Ummahatul Muminiin Termasuk Dari Ahlul Bait ?
Telah berbeda pendapat para ulama, apakah ummul muminiin termasuk ahlul bait atau tidak, diantara mereka ada yang berkata bahwa ummul muminiin adalah ahlul bait, yang berpendapat seperti ini adalah Aisyah, Ibnu Abbas, ' Ikrimah, 'Urwah bin Zubeir, Ibnu Athiyyah dan Ibnu Taimiyyah. Mereka berdalil dengan sebuah atsar yang dikeluarkan oleh Al Khalal dari Ibnu Abi Mulaikah sebagai berikut :
أن خالد بن سعيد بن العاص بعث إلى عائشة سفرة من الصدقة فردتها وقالت : إنا آل محمد لا تحل لنا الصدقة 
"Bahwa Khaalid bin Sa'id bin Al Ash diutus kepada Aisyah dengan membawa harta shadaqah, akan tetapi Aisyah menolak dan berkata : Sesungguhnya keluarga Muhammad tidak halal bagi kami shadaqah."
'Ikrimah menjadikan ayat :
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا...
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS Al Ahzab : 33)
Sebagai dalil bahwa ummul muminiin adalah ahlul bait, dikarenakan ayat ini susunan sebelum dan sesudahnya jelas-jelas menunjukkan diturunkan kepada istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja. 10
Sebagian ulama mengatakan bahwa ummul muminiin tidak termasuk ahlul bait, mereka berdalil dengan sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzi dari 'Umar bin Abi Salamah yang berkata :
نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ عَلَ
ى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا } فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ ، فَدَ النَّبِيُّ فَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ وَعَلِيٌّ خَلْفَ ظَهْرِهِ ، فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ هَؤُلاءِ أَهْلُ بَيْتِي ، فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا ، قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ : وَأَنَا مَعَهُمْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ ؟ قَالَ : أَنْتِ عَلَى مَكَانِكِ ، وَأَنْتِ إِلَى خَيْرٍ
"Tatkala turun ayat ( Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya ) di rumah Ummu Salamah, maka Nabi memanggil Fathimah, Hasan dan Husein dan memasukkan mereka kedalam jubahnya dan Ali ada dibelakang punggung beliau, kemudian beliau berkata : "Ya Allah - merekalah ahli baitku, maka hilangkanlah dari mereka dosa dan bersihkanlah mereka sebersih bersihnya. Maka berkata Ummu Salamah : "Adapun aku bersama mereka wahai Nabi Allah ? "Berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, engkau berada dikedudukanmu, dan engkau adalah baik." 11

Hak - Hak Ummahaatul Muminiin 
Ummahaatul muminiin memiliki hak-hak yang besar disisi kaum muslimin, mereka wajib diagungkan dan dihormati, dan dibersihkan dari celaan dan cacian, perkara ini adalah hal yang wajib atas setiap muslim. Dan disana ada pembicaraan yang panjang di dalam menuduh zina salah seorang dari mereka, para ulama membedakan antara tuduhan berzina yang dialamatkan kepada Aisyah dan kepada selain beliau.
Siapa yang menuduh Aisyah berzina - dimana Allah ta'ala telah bebaskan dia dari tuduhan tersebut - maka dia kafir dan ganjarannya adalah dibunuh. 12 dan perkara ini dihikayatkan oleh Al Qadhi Abu Ya'la dan selainnya sebagai ijma.13, karena yang menuduh Aisyah berzina maka pada hakikatnya telah mendustakan Al Qur'an dimana Allah ta'ala berfirman :
 يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. " (QS An Nuur : 17)
Adapun menuduh berzina salah seorang dari ummahatul muminiin - selain Aisyah - maka telah berbeda pendapat ulama didalamnya. Ibnu Taimiyyah berkata : "Sesungguhnya hukum bagi yang menuduh berzina salah seorang dari mereka sama seperti hukum menuduh berzina Aisyah radhiyallahu 'anha - yakni dibunuh, karena hal ini menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahkan hal ini merupakan celaan yang jelas bagi agama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." 
Adapun yang lainnya berpendapat bahwa menuduh berzina salah seorang diantara ummahatul muminiin - selain Aisyah - sama hukumnya dengan menuduh berzina salah seorang shahabat atau menuduh berzina seorang muslimah. Mereka berhujjah dengan ayat :
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. " (QS An Nuur : 4),
mereka yang berhujjah dengan ayat ini mengatakan : bahwa keutamaan ummahatul muminiin tidaklah kemudian membuat perbedaan disisi hukum bagi orang yang menuduh mereka berzina.
Adapun Masruq dan Sa'id bin Jubeir memiliki pendapat : siapa yang menuduh berzina salah seorang ummahatul muminiin - selain Aisyah - maka hukumannya dicambuk sebanyak 160 kali. 14
Adapun mencela ummahatul muminiin dengan tuduhan selain zina, tanpa ada penghalalan dari dirinya untuk mencela mereka, maka hal ini merupakan kefasikan, dan hukumnya sama dengan mencela salah seorang shahabat  radhiyallahu 'anhum, hal ini disebutkan oleh Ibnu Hazm. 15

Wallahu 'alam.
Catatan kaki : 
1. Tafsir Al Qurthubi 14/125 - cetakan Darul Kitab Al Mishriyyah, Ahkamul Qur-an 3/1496 karya Imam Ibnul Arabi - cetakan Darul Fikr.
2. Hasyiah Al Adawi Lil Kharasy 3/163.
3. Khasaaisul Kubra 3/276 karya Imam As Suyuthi 3/276.
4. Syarhul Kharasy 3/161, Khasaaisul Kubra 3/278.
5. Asy Abdul Qadir Al Arnauth : di dalam sanadnya ada Syahr bin Hausyab dia adalah shaduq dan banyak melakukan mursal, dan padanya ada wahm. Bersamaan dengan itu Asy Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth menghasankan hadits yang lainnya didalam Jami'ul Ushul 2/320. 
6. Ahkamul Qur-an 3/449 karya Al Jashaash.
7. Imam Al Haitsami berkata dalam Majmauz Zawa'id 9/367 - 368 : "Rijalnya-rijal shahih."
8. Ucapan Muhammad bin Ka'ab Al Qurazhi ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Sa'ad dalam Thabaqat - nya 8/172 dengan sanad yang mursal.  
9. Tafsir Al Qurthubi 14/123, Ahkamul Qur-an 3/1496 karya Imam Ibnul Arabi.
10. Al Mughni 2/657 karya Imam Ibnu Qudamah, Tafsir Al Qurthubi 14/184, Tafsir Ath Thabari 25/8 dan lain - lain.
11. Hadits ini dikatakan oleh Al Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 15/117 : "Hadits ini isnadnya shahih." 
12. Hasyiah Ibnu Abidin 3/167, Shaarimul Masluul hal 566 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan lain - lain.
13. Shaarimul Masluul hal 565.
14. Khasaaisul Kubra 3/179. 
15. Al Muhalla 11/409.


Saya kutib dari catatan : Ustadz Abu Asma Andre
Reaksi:

0 komentar:

Jangan lupa tinggalkan komentar anda disini dan gunakan kata-kata yang baik dalam berkomentar
dan saya menolak debat kusir
terima kasih

 
Back To Top