Minggu, 08 Juni 2014

Nasehat Syaikh Muhammad Hasan Dedew Asy-Syinqithi


Masalah: Adalah seorang pemuda yang multazim (berpegang teguh dengan ajaran-ajaran syar’i) akan tetapi kiranya para sahabatnya mencelanya dan menyakitinya karena dia meninggalkan berbagai keharaman. Apa nasehatmu dalam hal ini?
Nasehat Syaikh: “Sesungguhnya seorang anak manusia apabila dia menjalani jalan surga, jalan yang lurus adalah suatu kemestian dia akan mendapati kesukaran dan kesulitan, karena itulah nasehat Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah: “Sesungguhnya tidaklah datang seorang pun dengan membawa seperti yang engkau bawa kecuali dia akan dimusuhi, jikalau aku menemui masamu itu aku akan membelamu dengan pembelaan yang tangguh”.
Karena itu jika engkau mendapatkan kesukaran itu yang berasal karena engkau berpegang terhadap pondasi agama maka pujilah Allah dikarenakan hal itu, sebab itu menunjukkan tingkatan imanmu. Allah Ta’ala telah menjelaskan:
“Maka Tuhan mereka telah memperkenankan buat mereka bahwa sesungguhnya Aku tak akan mensia-siakan perbuatan orang yang beramal di antara kalian baik dari laki-laki ataupun wanita, sebagian kalian dari sebagiannya. Maka orang-orang yang berhijrah, yang dikeluarkan paksa dari rumah-rumah mereka, disakiti di jalanku, dan mereka berperang serta dibunuh sungguh telah aku tebus semua kesalahan mereka”.
Maka barangsiapa yang disakiti ketika dia berada di jalan Allah, sungguh dia telah mencapai suatu tingkatan keimanan dari jenjang-jenjang keimanan. Karena ini pula Imam Malik ketika di hukum cambuk berucap: “Aku memuji kepada Allah ketika aku di cambuk ini sebagaimana Muhammad bin Al-munkadir, Rabi’ah bin Abdurrahman juga telah dicambuk, dan tak ada kebaikan dalam perkara ini jika orang tersebut tidak dicambuk”.
Dalam riwayat yang lain disebutkan:
“Tak ada kebaikan jika seseorang berada dalam perkara ini (berpegang teguh pada ajaran syar’i) jika dia tidak disakiti.
Karena itu bagi pemuda itu jika sahabat-sahabatnya menyakitinya serta berbicara buruk tentangnya, ketahuilah itulah sunnah yang berlaku di antara manusia, mereka menyakiti para Nabi, para Shalihin dan orang-orang yang istiqomah dulu, maka janganlah dia merasa sempit hastanya sebab hal itu, bahkan semestinya dia memuji Allah dan meyakini bahwa apa yang terjadi adalah salah satu pertanda di antara tanda dia telah menjalani jalan hidayah dan jalan kebenaran.
(Demikian Jawaban Syaikh Muhammad Hasan)


Penulis Akhi Habibi Ihsan

Sabtu, 07 Juni 2014

Dalil Anjuran Makan Buah Sebelum Makanan Utama


Mungkin telah tersebar informasi adanya anjuran makan buah sebelum makan utama. Dan ini dinisbatkan kepada Islam atau ini adalah anjuran agama islam. Ternyata ini bukan HOAX dan ada beberapa ulama yang berpendapat demikian, diantaranya Imam An-Nawawi rahimahullah.
Memang benar secara kesehatan dianjurkan makan buah sebelum makan utama, karena lebih memudahkan penyerapan buah dan gizi yang terkandung di dalamnya dan tidak bersaing dengan penyerapan makanan utama serta bisa juga meningkatkan kadar glukosa darah. Akan tetapi ini efektif Jika Makan Buah 30 Menit Sampai 2 Jam Sebelum Makan Atau 1-2 Jam Setelah Makan.
Jika makan buah dulu, baru tidak berselang lama, langsung makan besar tanpa jarak waktu minimal 30 menit. Maka ini sama saja dengan makan buah setelah makan, buah akan bersaing penyerapan dengan makanan utama. Akan tetapi ada juga yang mengatakan, walaupun tidak 30 menit, minimal pencernaannya lebih utama buah dan lebih maksimal.
Terlepas dari pembahasan dari segi kesehatan, tetap saja kita harus menghormati saudara kita yang berpegang dengan pendapat ulama bahwa di antara adab makan adalah mendahulukan buah baru makan besar/pokok.
Berikut pembahasannya:

Dalil Makan Buah Sebelum Makanan Utama
Di antara dalilnya adalah surat Al-Waqi’ah, Allah ta’ala berfirman:

7pygÅ3»sùur $£JÏiB šcr玨y‚tGtƒ ÇËÉÈ   ÉOøtm:ur 9ŽösÛ $£JÏiB tbqåktJô±o„ ÇËÊÈ  

(20) dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, (21) dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (QS Al-Waqi’ah: 20-21)
Di antara ulama ada yang berdalil bahwa Allah menyebut buah dahulu baru daging sebagai dalil anjuran dalam islam, makan buah dahulu baru makanan utama.
 Al-Gazali rahimahullah berkata:
“Dianjurkan mendahulukan makan buah jika karena sesuai dengan ilmu kedokteran yaitu lebih cepat dicerna maka lebih baik buah lebih bawah (dalam perut) daripada hidangan (makanan pokok). Dalam Al-Quran ada peringatan untuk mendahulukan makan buah yaitu dalam firman Allah: ”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”.

Akan tetapi ada ulama yang TIDAK SETUJU dengan pendalilan seperti ini akan tetapi membenarkan bahwa adab makan mendahulukan buah dari makanan utama.
Syaikh Shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata:
“Yaitu mendahulukan buah daripada makanan utama lebih baik karena lebih cepat dicerna. Sebagian (ulama) berdalil dengan firman Allah pada jamuan penduduk surga dan mereka mendahulukan buah dari makanan utama.
Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginka
Akan tetapi ini tidaklah menjadi dalil, semata-mata menyebut sebagai ma’tuf (urutan) tidaklah menjadi dalil untuk mendahulukan buah. Kemudian (yang menjadi alasan juga) keadaan di surga berbeda dengan di dunia, sama saja mendahulukan buah sebelum makan atau makan sesudahnya, maka perkaranya lapang.”
Akan tetapi ada dalil yang lainya sebagaimna disebutkan oleh Imam AN-Nawawi rahimahullah:
 “Imam An-nawawi telah menyebutkan ketika menjelaskan hadits Abi Al-Haitsam bin Thihan tatkala ia datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ada Abu Bakar dan Umar. Ia membawa wadah yang berisi kurma basah dan kurma kering, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata:
‘makanlah ini (kurma), kemudian mengambil hidangan dan kemudian pergi
Imam AN-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini sebagai dalil dianjurkannya mendahulukan makan buah, baru kemudian roti, daging dan makanan pokok lainnya.

Demikian semoga kita bisa bijak menyikapi hal ini dan menghormati saudara kita yang mengambil pendapat ulama yang berdalil dengan hal ini.
Demikian semoga bermanfaat

Saya kutib dari tulisan dokter Raehanul Bahraen

Selasa, 06 Mei 2014

Mereka Yang Meninggalkan Tasawuf : Syaikh Abdudzdzahir Abu Samah (Imam besar dan Maha Guru di Tanah Haram)


Syaikh Abdudzdzahir bin Muhammad Nuruddin Abu Samah, seorang Alim dari Al-azhar, pemuka para Imam dakwah yang menyeru kepada Sunnah di Mesir, juga Imam dan Guru besar di tanah Haram Mekkah. Betapa seringnya beliau disakiti karena sebab terangnya kebenaran yang beliau bawa hingga menerangi penduduk dunia ini sekalian. Mesjid beliau menjadi saksi penyerangan para pengecut yang tak mampu menyerang beliau kecuali ketika beliau berdiri sholat mengimami manusia yng seolah-olahnya ketika beliau sholat itu beliau beranjak dari negeri dunia ini menuju negeri akhirat.
Syaikh yang tak suka di puji ini -Rahimahulloh- dilahirkan di Kota Taliin, suatu kota di Mesir pada tahun 1300 H dari keluarga yang dikenal snagat perhatian dengan Al-Qur’an, baik hafalan atau pengajarannya. Sehingga Syaikh Abdudzdzahir ini menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya di usia Sembilan tahun dengan bimbingan orang tuanya. Selanjutnnya beliau bertekun di Al-Azhar membaca Qira’ah Sab’ah seiring dengan bertambahnya keinginan menghafal Sunnah, juga perhatian besar terhadap tafsir, fikih, bahasa dan ilmu-ilmu lainnya. Di masa kecilnya Syaikh Abdudzdzahir ini sering hadir di majelis Syaikh Muhammad Abduh.
Setelah bertahun-tahun lamanya beliau menuntut ilmu beliau berjumpa seorang Alim yang di sebut dengan Al-‘Allamah Syinqith yaitu Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy -Rahimahulloh- hingga kebenaran menyentuh hatinya maka hati itu pun bercahaya dengan cahaya aqidah salafiyah. Beliau pun bertekun menelaah kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan yang sejalan dengan kedua Imam ini. Kembali kepada kebenaran serta mengikut dalil. Dan adalah hal yang sangat mendukung beliau penguasaannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta diri beliau yang siap sedia menerima kebenaran.
Di suatu masa beliau beraktivitas di sebuah madrasah di daerah Suwais selanjutnya kembali ke Kairo menuntut ilmu di Madrasah Dar Ad-da’wah. Beberapa lama kemudian beliau dipercaya sebagai pengajar di Iskandaria, dan di sanalah beliau berdiri tegak menyeru dakwah, menerangi kegelapan, merobohkan bangunan-bangunan prasangka, membebaskan manusia dari penyembahan sesame hamba kepada hanya menyembah Tuhan para hamba itu, merangsak maju terhadap penyeru kemusyrikan serta menghancurkan kemusyrikan mereka itu, mendebat ahli bid’ah hingga bid’ah-bid’ah itu bertanggalan, menolong ahlussunnah serta meninggikan bendera mereka. Adalah dakwahnya Syaikh Abdudzdzahir ini adalah sebab terangkatnya kebodohan , beliau menjauhkan hamparan para peminta-minta dalam buruknya kesyirikan yang mereka lakukan, hingga menjadi berkurang mereka-mereka yang suka menziarahi masyhad (tempat ziarah penganut tasawuf), sebaliknya bertambah banyak orang-orang yang sholat di mesjid, menjauhi kesyirikan yang menghamba,untuk selanjutnya mengangkat tinggi bendera tauhid. Dan syaikh ini termasuk pengasas gerakan Anshorus Sunnah Al-Muhammadiyah di Iskandaria.
Tentu saja perjuangan beliau ini akan memunculkan penentangan, ini suatu kemestian. Bahkan ternnyata yang menentang membawa gangguan yang luar biasa. Yang paling besar di antara penentangan itu gangguan yang dilaksanakan ketika mengimami sholat di Mesjid yang dilakukan oleh para pengagum masyhad dan kuburan, dari para sufi dan yang sejalan dnegan mereka. Bagi mereka tak ada penghormatan bagi rumah-rumah Allah atau bagi mereka yang berada dihadapan Allah. Adalah sebab gangguan mereka ini dari apa yang telah kita ceritakan berupa kesungguhan beliau dan penelanjangan beliau terhadap hakikat para sufi, para pengagum masyhad dan tempat-tempat ziarah yang berisi kemusyrikan, pembatalan beliau terhadap aqidah Asy’ariyah, dan terutama sekali karena Syaikh Abdudzdzahir ini sangat mengetahui dengan keadaan mereka, beliau -sebelumnya-adalah panutan mereka hingga Allah yang bersifat Al-Haady dan Al-Qadiir menunjuki beliau. Allah menjaga beliau dari kejahatan dan rencana buruk mereka, dan sesungguhnya tipu daya kebatilan adalah suatu hal yang akan binasa.
Di antara orang yang menerima cahaya kebenaran dengan debat, kesungguhan dan ketegaran yang beliau pegang yaitu sejumlah besar Maha Guru (Masyayikh) di Al-Azhar, salah satunya bahkan yang paling menonjol seorang Alim dari Al-Azhar ini yang juga termasuk Ahli bait Nabi Shollallahu alaihi wasallam, Syaikh Ahli Hadits Muhammad Abdurrazzak Hamzah. Sebelumnya dalam rentetan perdebatan yang berkepanjangan akhirnya beliau menggenggam kebenaran, menjadikan dalil sebagai ikutan hingga Syaikh Muhammad Abdurrazzak ini menerima dakwah sekaligus mendakwahkannya.
Satu hal yang perlu dicatat dari beliau -walaupun amal kebaikan beliau melimpah ruah, beliau sangat tak suka di puji, hal ini pernah beliau sebutkan ketika mengomentari biografi beliau yang di muat di salah satu kitabnya. Beliau berkomentar : “Salamun ‘Alaik, Amma ba’du. Sungguh telah sampai kepadaku kitabmu yang hampir-hampir aku tak mampu menengoknya disebabkan apa yang engkau muat dari riwayat hidupku hingga aku letakkan dua tanganku menutupi wajahku karena malu, sungguh engkau telah memakaikan pakaian yang besar menutupi dengan pujian dan sanjungan berlebih yang aku tak pantas mendapatkannya….”
Setelah gigihnya kesungguhan perjuangan yang luar biasa ini dunia pun mengenal beliau, mengenalnya sebagai seorang alim yang memberikan nasehatnya, mendebat dan mengalahkan, debu-debu tak sanggup merintangi beliau, tidaklah berhadapan dengan beliau seorang penuntut kebenaran melainkan dengan perdebatan dengan beliau itu menjadi terbuka hatinya menerima kebenaran yang beliau bawa, sebagaimana tidaklah mendebat beliau seorang ahlul bathil kecuali tersadar diri dan kebathilannya berjatuhan. 
Hingga akhirnya di suatu ketika Syaikh Abdudzdzahir di percaya sebagai Imam di tanah Haram Mekkah, sebagai Maha Guru pengajar di Masjidil Haram juga di Darul Hadits Mekkah Al-Mukarromah. Beliau pun memegang kepercayaan ini bersama orang kepercayaan beliau, yaitu murid sekaligus sahabat juga menantunya yaitu Syaikh Abdurrazzak Hamzah. Kedua tokoh ini melahirkan banyak gelombang Ulama yang ‘aamiliin, dan mendapat petunjuk dari dakwah keduanya sejumlah besar penuntut ilmu yang tersesat di lembah kesyirikan dan kebid’ahan. 
Selalu dan selalu Syaikh Abdudzdzahir ini mennyebar al-haq, meremuk redamkan kebathilan dengan pengajaran dan tulisannya . Banyak sekali risalah yang beliau tulis, di antaranya : Ar-risalah Al-Makkiyah fir-raddi ’ala Ar-risalati Ar-ramliyah, Hayatul Quluub bi du’ai ’Allamil Ghuyuub, Al-auliaa, Al-karomaat.
Dan adalah Syaikh Abdurradzdzak Abu Samah ini termasuk pengasas gerakan Jama’ah Anshorus Sunnah Al-Muhammadiah di Mesir, selain termasuk dari pengasas Darul Hadits di Mekkah Al-Mukarromah. Konsisten di jalan ini hingga beliau wafat di Mesir tahun 1370 H. Semoga Allah mengampuni dan merahmati beliau, mengangkat derajatnya di ’Illiyyiin. Dan aku akhiri cerita singkat tentang beliau ini dengan bait-bait Nuniah yang pernah beliau gubah menunjukkan kesyukuran beliau terhadap semua nikmat yang beliau rasa :
Segala puj bagi Allah yang menunjukiku suatu karunia yang sebelumnya aku berada ditepian nereka.Demi Allah jikalau seluruh anggota tubuhku mengucap syukur wahai Tuhanku sepanjang masa, tidaklah itu bagiku kecuali suatu kelemahan dan kekurangan di banding kesyukuran yang semestinya aku haturkan.
Engkau kuatkan diriku, engkau tolong dan engkau pelihara dari semua gangguan orang yang dengki dan berniat jahat. Engkau hinakan musuh-musuhku serta tak Engkau luluskan rencana mereka menyakiti dan meyemai permusuhan denganku. Telah Engkau wariskan buatku dzikir yang bijak sebagai keutamaan serta engkau karunia aku dengan beragam nikmat tanpa mampu aku mengira-ngiranya.
Engkau angkat cerita tentang diriku ketika mereka ingin mencampakkannya. Dan Engkau siapkan untuk diriku semulia-mulia tanah air. Engkau diamkam diriku di antara Hathim dan zamzam, serta menjadi Imam bagi mereka yang bertaqwa. Engkau muliakan diriku , tunjuki serta memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki dari mereka yang tersesat dan linglung. Apakah kepada dirimu mereka yang memendam dengki berani menggugat? Orang yang bersikeras padahal dirimu penuh kebaikan.Orang yang dzalim padahal diriMu sepaling adil orang yang bersikap adil. Jauh sekali diriMu dari kedzaliman dan aniaya. 
Dan jikalah bukan karuniaMu tiadalah aku mampu walaupun punya kesempatan. Karena itu sempurnakanlah nikmatMu yang telah Engkau karuniakan wahai Sebaik-baik Dzat yang diseru oleh semua lisan. Akhirilah dengan keberuntungan hambamu ini, sesungguhnya dia mengharap dalam kesendirian atau pun keramaian. Karuniakanlah baginya Jannatun Na’iim serta melihat wajahmu yang Agung beserta semua teman. Dan tolonglah Saudara Tauhid, penguasa tanah Arab Abdul Aziz, menangkan dia dari penyembah berhala. Dan pukullah belakang mereka yang menentang dengan pedangnya. Kecapkanlah bagi para penentang keburukan di setiap tempat.
Dan Kekalkanlah sholawat dan salamMu terhadap orang yang telah Engkau utus dengan Syari’at keimanan, juga buat keluarga dan sahabatnya selama bintang gemintang masih bermunculan, tak lupa teruntuk tabi’iin yang kebaikan menyertai mereka selalu. (Selesai Goresan kata Syaikh Abdudzdzahir)
Semoga bermanfaat Untukmu yang menginginkan berkibarnya bendera Tauhid di mana pun berada.


Penulis akhi Habibi Ihsan

Rabu, 23 April 2014

Mereka Yang Meninggalkan Tasawuf: Al-Muhaddits Abu Syu’aib Ad-Dakkaly Ash-Shiddiqy


Beliau seorang Ahli Hadits yang di gelari dengan Hafidznya Maghrib, Abu Syu’aib bin Abdurrahman Ash-Shiddiqi Ad-dakkaly-Rahimahulloh- yang wafat tahun 1354 H. Beliau seorang yang mempunyai kekuatan hafalan luar biasa, ini bisa dilihat ketika masa beliau menghafal berbagai pelajaran di masa mudanya . Beliau hanya memerlukan waktu satu hari untuk menghafal Ajurumiyah, 10 hari untuk seribu bait Alfiyah, 14 hari untuk menghafal Mukhtashar Al-Kholil, dan selanjutnya untuk setiap bait Alfiyah beliau menguasai 10 syawahid dari syai’r-sya’ir arab yang dijadikan sebagai dalil bait tersebut sekaligus mengetahui siapa saja yang mengucapkan sya’ir itu. Beliau menguasai juga qira’ah sab’ah, kokoh dalam qaedah-qaedah bahasa Arab ditambah kecerdasan yang tajam dan tabiat yang kuat dalam adab dan akhlak yang baik.
Syaikh Ahli hadits ini pun berkelana ke Mesir dan Hijaz, menemui para pembesar-pembesarnya, serta mengimami manusia di tanah Haram Makkah. Di sanalah beliau terkesan dengan gerakan pembaharuan yang sedang berlangsung di Mekkah dan Hijaz. Setelahnya beliau kembali ke Negerinya Maghrib yang para penguasa di sana membesarkan beliau. Beliau berdakwah menyeru kepada beramal dengan hadits dengan tetap menghormati mazhab Maliki dengan tanpa ta’ashub (fanatik buta) kepada mazhab ini. Dalam masalah aqidah beliau menyeru kepada manhaj Salaf dan menolak mazhabnya kaum mutakallimin, menyeru kepada jalan Sunnah, menolak bid’ah, menyerang jalan-jalan kaum shufi dengan keras bahkan menganggap bodoh syi’ar-syiar mereka.
Hingga manusia pun berhadap kepadanya, menjadi muridnya, bahkan mereka menganggap Syaikh yang kuat hafalannya ini sebagai mujaddid Islam di masanya di Negeri Mahgrib yang tinggi itu. Seorang Imam besar dalam keilmuannya dan melimpah ruahnya pelajaran yang dia berikan, hingga di kenal mempunyai banyak murid dan pengikut.
Syaikh Abu Syu’aib Ad-dakkaly ini meninggalkan di belakang beliau banyak sekali pengikut yang menjadi ulama, terutama mereka-mereka yang bertekun di Ribath Al-Fath. Beliau mengajarkan semua kitab Sunnah yang enam serta sejumlah besar kitab-kitab adab dan tafsir Al-Qur’an yang disela-sela semua itu beliau melontarkan gagasan pembaharuannya.
Di antara murid-muridnya yang masyhur serta mendukung gagasan-gagasan pembaharuannya, ikut tegak memerangi tasawuf dan semua ragam kebid’ahannya sepeninggal beliau, yaitu : Syaikh Muhammad Hasan Al-Hajawy, Al-Hafidz Muhammad Al-Madany bin Al-Ghazy al-’ilmy, Al-Qadhi Al-Imam Muhammad bin Abdussalam As-Saaih Ar-Ribaathy, Al-Qadhi Abdul Hafidz bin Thahir Al-Faasy Al-Fihry, dan Al-’Allamah Asy-syariif Muhammad bin Al-’araby al-’alawy.
Sekilas tentang dakwah murid-murid Syaikh Muhaddits Abu Syu’aib :
Syaikh Muhammad bin Al-hasan Al-Hajawy, yang dengan dakwah pemurniannya serta menyeru kepada jalannya Salaf, meninggalkan kejumudan yang membeku. Beliau menyusun sebuah kitab yang berharga sekali, di antaranya kitab Al-Fikrus Saamy Fie Tarikh Al-fikh Al-islamy. Beliau menyeru kepada aqidah Salaf, meninggalkan ta’wil dalam masalah sifat, memerangi kaum sufi pada syiar mereka berupa tarekat dan ghuluw pada para sholihin. Beliau menyeru kepada pembaharuan Fikih Islam dengan kembali kepada sumber asalnya yang jernih. Beliau wafat tahun 1376 H.
Al-Hafidz Muhammad Al-Madany bin Al-ghazy Al-’ilmy. Beliau ini adalah tahi lalat (pesona) yang ada di ”dahi masa” saat itu. Beliau mempunyai kitab berupa Syarah (penjelasan) terhadap kitab ”Al-Mukhtashar” tapi tidak selesai, Syarah terhadap kitab Al-Mursyid Al-Mu’in beserta dalil-dalinya. Selain itu beliau mengajarkan kitab ”Zaadul Ma’aad” karya Ibnul Qayyim di Jami’ As-Sunnah di Ribath. Adapula Syarah beliau untuk kitab Nashihatu Ahli Islam karya Syaikh Ja’far Al-Kattany dalam 4 jilid. Dan adalah Syaikh Al-Madany ini mempunyai jangkauan yang luas dalam masalah hadits dan adab. Beliau wafat tahun 1378 H.
Al-Qadhi Muhammad Bin Abdussalam As-saaih Ar-ribaathy, seorang yang mempuanyai jangkauan luas dalam berbagai bidang ilmu. Beliau ini sebagaimana Gurunya Syaikh Syu’aib dalam dakwahnya menyeru kepada Sunnah dan melempar jauh kebid’ahan. Wafat tahun 1368 H.
Al-Qadhi Abdul Hafidz bin Thohir Al-Fihry, seseorang yang mempunyai banyak karya tulis tentang taraajum (biografi perawi hadits) dan isnaad (mata rantai hadits). Beliau pun berdakwah di antara aktivitas beliau menyeru kepada jalannya Salaf, menjauhi kebid’ahan dan segala khurafat.
Al-‘allamah Asy-syarief Muhammad bin Al-Araby Al-Alawy, beliau termasuk yang paling masyhur di antara yang dekat dengan Syaikh Abu Syu’aib Ad-dakkaly, pembawa bendera beliau sepeninggalnya-Rahimahulloh-. Manakala Sulthan Muhammad bin Yusuf di asingkan tahun 1373 H. Lalu dibai’atlah anak pamannya Muhammad bin Arafah, maka Syaikh Alawy ini menentang hal ini dengan penentangan yang besar serta memfatwakan bolehnya membunuh mereka yang merebut kekuasaan ini. Hingga mereka yang membolehkan hal ini menampakkan penentangannya lalu mengasingkan beliau ke Shahraa. Hingga banyak ujian menimpa beliau. Akan tetapi manusia berkumpul di sekeliling beliau sepeninggal Gurunya, Syaikh Abu Syu’aib Ad-Dakkaly. Mereka menjadikan Syaikh Alawy sebagai Syaikhul Islam di Negeri Maghrib. Adalah Syaikh Ibnul ‘Araby Al-‘alawy ini penentangannya terhadap tasawuf lebih keras dibanding Gurunya Syaikh Ad-Dakkaly. Setelah Negeri Maghrib merdeka beliau menjauh tidak jauh dari sana disebabkan apa yang beliau lihat berupa penyimpangan hukum dari syariat Islam, hingga Akhirnya beliau wafat tahun 1384 H. Beliau sama sekali tak meninggalkan suatu karya tulis.
Demikian sekilas lintas tentang Muhaddist dari Maghrib Syaikh Abu Syu’aib Ad-dakkaly dengan murid-murid utamanya-Rahimahulloh-, dan adakah yang ingin menyusul jejak langkah beliau dan murid-muridnya itu ?
Demikian, semoga bermanfaat.


Penulis: Akhi Habibi Ihsan

 
Back To Top