Tampilkan postingan dengan label wahabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wahabi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

Membela Syaikh Al-Albani Walaupun Beliau Salah ?


Syaikh al-Fadhil ‘Ali bin Hasan bin ‘Abdil Hamid al-Halabi al-Atsari hafizhahullahu ditanya : “Mengapa Anda membela Syaikh Albani padahal beliau salah?

Jawab: “Siapa yang mengatakan kepada Anda bahwa kami membela Syaikh Albani walaupun beliau salah ? Kami tetap akan mengatakan salah apabila beliau memang melakukan kesalahan. Akan tetapi kami membela beliau dalam hal yang beliau tidak salah, dan dari kesalahan kaum yang menyalahkan beliau tanpa hak.

Adapun membela Syaikh padahal beliau salah, maka sekali-kali tidak! Kami tidak akan melakukan hal ini! Karena beliau sendirilah yang mendidik kami untuk mengagungkan kebenaran. Beliaulah yang mendidik kami untuk tetap menyalahkan orang yang salah. Dan beliau lah yang mendidik kami untuk membantah orang yang menyeleweng, walaupun orang tersebut adalah syaikh Albani sendiri! Ucapan ini adalah klaim kosong belaka! [selesai]

[Pertemuan ke-15 Room Al-Qur`ân al-Karîm]

Sumber : disini

Selasa, 24 Maret 2015

Salafi Bukan Aliran Tertentu Tetapi Penisbatan Kepada Para Salaf


Salafi bukanlah suatu aliran atau kelompok tertentu, akan tetapi salafi adalah penisbatan kepada para salaf yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, dan generasi terbaik yaitu Tabi’in dan tabi;ut tabi’in.
Jadi apapun organisasi atau ormasnya, jika mereka bermanhaj (metodologi beragama) sesuai dengan pemahaman para salaf, maka mereka semua adalah salafi. Ormas NU, ormas Muhammadiyah, organisasi A dan kelompok B, jika manhaj mereka mengikuti para salaf, maka mereka adalah salafi.
Bagi yang sudah belajar bahasa Arab tentu mereka paham. Bahwa kata “salaf” (سلف) jika ditambahkan huruf “ya nisbah” maka artinya adalah penisbatan. Sebagaimana kata yang sudah sering kita dengar “Islami” adalah penisbatan kepada Islam. Jadilah “pakaian Islami, akhlak Islami”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa beliau adalah “salaf”. Beliau berkata kepada putri beliau yaitu Fathimah :
اِتَّقِيْ اللهَ وَاصْبِرِي فَإِنَّ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
“Bertakwalah kamu dan bersabarlah karena sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagi kamu adalah aku”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Begitu juga Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya yang hendak akan meninggal,
اِلْحَقِيْ بِسَلَفِنَا الصَّالِحِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ.
“Susul-lah para salaf  (pendahulu) kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un.” (HR ath Thabrani di dalam al Mu’jam al Ausath no. 5736)
Demikian juga dengan penyebutan “dakwah salafiyah”. Bagi yang sudah belajar bahasa Arab tentu paham. Artinya adalah dakwah menyeru kepada pemahaman para salaf dalam beragama.
Para salaf tersebut adalah generasi terbaik dalam Islam yang mana pemahaman agama mereka yang paling baik dan tentu harus kita ikuti. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian generasi setelahnya (tabi’in), kemudian generasi setelahnya (tabi’ut tabi’in). (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)
Jadi jika ada ungkapan “saya keluar dari salafi”, tentu  belum memahami benar istilah ini dan semoga mereka yang berkata demikian bisa memahami dan mendapatkan kebaikan yang banyak.

Kenapa Sih Kok Ada Istilah Salafi?
Sumbernya dari hadits bahwa umat akan terpecah belah menjadi beberapa 73 golongan (aliran) semunya akan masuk neraka (tidak kekal) kecuali satu yang selamat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثَةٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قِيلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ الَّهلِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ
“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya, ‘Siapakah dia wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas jalan hidup (manhaj) yang aku dan para sahabatku berada’.” (HR. At-Tirmidzi )
Nah, satu yang selamat inilah yang dimaksudkan oleh para ulama. Berdasarkan penelitian para ulama nama satu kelompok ini ada banyak misalnya Firqotun najiyyah, Ahlus sunnah wal jamaah, ahlul Hadits, Salafi dan lain-lain.
Dahulunya para ulama mengenalkan dan mempopulerkan istilah ahli hadits atau ahlus sunnah wal jamaah. Akan tetapi tatkala semua pihak dan aliran yang menyimpang juga mengaku bahwa mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah, maka para ulama belakangan mempopulerkan istilah “salafi”.
Akan tetapi saat inipun cukup banyak yang mengaku salafi tetapi akhlak, agama dan kepribadian mereka tidak sesuai dengan akhlak dan agama para salaf.
Tidak heran ada yang berkomentar : “salafi itu aliran keras dan maunya memang sendiri saja” bisa jadi karena ulah “oknum” tetapi jangan digeneralisir. Padahal para salaf mengajarkan agar dakwah itu hukum asalnya lembut, menghindari debat kusir walaupun kita menang secara ilmu, murah senyum dan berwajah ceria, serta menginginkan kebaikan kepada saudaranya.
Tidak heran ada yang berkomentar : “salafi itu gampang membid’ahkan, mengkafirkan, dikit-dikit bid’ah”
Bisa jadi karena ulah “oknum” tetapi jangan digeneralisir. Padahal para salaf mengajarkan agar tidak sembarangan membi’dahkan dan mengkafirkan. Kehormatan seorang muslim itu tinggi. Jika benar dia itu adalah bid’ah dan syirik, maka pelakunya belum tentu dicap ahli bid’ah dan ahli kesyirikan karena bisa jadi ada udzur syar’i. kalaupun iya, mereka melakukan, maka ada caranya menyampaikan, tentu dengan seni berdakwah  bukan sembarangan.
Ingat, para salaf mengajarkan, dakwah adalah menginginkan kebaikan kepada saudaranya, caranya harus baik dan lembut dan tepat keadaan. Jika dakwah diterima alhamdulillah, jika ditolak mka mereka didoakan serta tidak boleh dimusuhi karena mereka adalah saudara kita dan memiliki hak-hak persaudaraan seIslam.

Ulama Sejak Dahulu Sudah Menggunakan Istilah “Salaf”
Kata “salaf” bukanlah kata-kata yang baru, ulama sejak dahulu sudah menggunakannya. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana pada hadits yang kami bawakan di awal.
Berikut kami nukil perkataan ulama-ulama sejak zaman dahulu yang sudah dikenal oleh kita:
1.   Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H)
وأعرف حق السلف الذين اختارهم الله تعالى لصحبة نبيه صلى الله عليه وسلم، والأخذ بفضائلهم، وامسك عما شجر بينهم صغيره وكبيره
“Dan aku mengakui hak para salaf yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memegang dengan keutamaan-keutamaan mereka, dan aku menahan diri dari perkara yang mereka percekcokan baik yang kecil atau besar.” (Al-Amru bi-ittiba’, As-Suyuthiy)
2.   Ahli tafsir Ibnu Katsir rahimahullah
وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوريوالليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل
“Sedangkan firman Allah ta’ala: ‘Kemudian Dia istiwa’ di atas ‘Arsy’, maka orang-orang dalam masalah ini mempunyai pendapat yang sangat banyak. Dan ini bukanlah tempat untuk menjabarkannya. Pendapat  inilah yang ditempuh oleh mazhabnya As-Salaf As-Shalih yaitu Imam Malik, Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’ad, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuyah dan imam-imam kaum muslimin baik yang dahulu dan sekarang, yakni membiarkannya tanpa takyif, tasybih dan ta’thil. (Tafsir Ibnu Katsir 3/426-427, syamilah)
3.   Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيُّ – رحمه الله – بِمَا رَوَى عَمْرُو بْنُ دِينَارٍعن ابن عمر رضي الله عنهما أَنَّهُ كَرِهَ أَنْ يَدَّهِنَ فِي عَظْمِ فِيلٍ لِأَنَّهُ مَيْتَةٌ، والسلف يطلقون الكراهة و يريدون بها التحريم
“Imam Asy-Syafii rahimahullah berhujjah dengan yang diriwayatkan oleh Amr bin Dinar dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwa beliau memakruhkan memakai minyak pada tulang gajah, karena itu bangkai. Dan Ulama salaf memberikan istilah dengan makruh sedangkan maksud mereka adalah pengharaman.” (Al-Majmu’ 1/127)
Demikian semoga bermanfaat


Minggu, 10 Agustus 2014

Pujian Ulama Kepada Syaikhul Islam Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy


Jika kita mau berkata jujur dan berbuat adil, sesungguhnya banyak sekali ulama-ulama yang memberikan pujian kepada beliau, baik dari kalangan yang satu manhaj dengan beliau, maupun dari kalangan ulama lainnya, adapun pujian ulama kepada Syaikhul Islam Mutafannin Muhaddits Mujaddid Abad 14 Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy, di antaranya :
Doktor Yusuf Al-Qordhowi seorang Tokoh besar Jama’ah Ikhwanul Muslimin berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Muhaddits (Ahli hadits) dari negeri Syam.
Doktor Yusuf Al-Qordhowi berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits yang masyhur (terkenal) dari zaman dulu dengan ilmu takhrij haditsnya dan menurutku Syaikh Albaniy adalah Ulama hadits yang paling masyhur pada zaman sekarang ini dan Ulama yang spesifik dalam ilmu takhrij hadits baik dalam menshohihkan dan melemahkan hadits.
Syaikh Abu Faidh Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari seorang Ahli hadits Sufi Thoriqoh Asy-Syadziliyyah berkata: Syaikh Nashiruddin Al-Albaniy ketika hijroh ke Dimasyq Syiria dan Beliau belajar bahasa arab maka Saya menerima atas ilmu haditsnya dan sangat mengokohkannya sekali.
Syaikh Abu Fadhl Abdulloh bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari seorang Ahli hadits Sufi Thoriqoh Asy-Syadziliyyah berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang mengetahui ilmu hadits dengan baik sekali.
Doktor Syaikh Muhammad Ghozali seorang Guru besar Universitas Al-Azhar Kairo Mesir berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits dan bagi seorang yang mendalami hadits maka sesuatu yang diberikannya haq (benar).
Syaikh Mushthofa Az-Zarqo seorang Ahli Fiqh dan Pakar ekonomi Suriah berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits yang terkenal di Suriah.
Syaikh Ali-Thonthowi seorang Adib berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang lebih tahu ilmu hadits dari pada Saya, dan Saya menghormatinya karena kesungguhannya, kerajinannya serta banyak karangannya. Dan untuk masalah hadits Saya meruju kepadanya.
Doktor Abdul Karim Zaidan seorang Ahli Fiqh dari Suriah berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits pada zaman sekarang ini.
Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Adam seorang Ulama Ahli fiqh, Ushul fiqh, dan Ahli Hadits dari Ethopia berkata: Bahwa karya-karya Syaikh Albaniy sangat menyenangkan karena Beliau memiliki andil besar dalam pengenalan hadits-hadits shohih dan lemah, dan karya-karya yang sangat bermutu itu menjadi saksi atas apa yang Kami kemukakan. Maka, pada zaman yang telah dikuasai oleh kejahilan seperti yang kita alami sekarang ini, sedikit sekali orang yang mampu menandinginya.
Syaikh Abdush Shomad Syarafuddin seorang Ulama Besar hadits India berkata: Saya pernah bersurat kepada Syaikh Albaniy yang isi suratnya adalah telah sampai kepada Syaikh ‘Ubaidillah Ar-Rohmani Rektor Universitas Salafiyyah di Benares India sebuah surat dari Majlis Fatwa di Riyadh Arab Saudi meminta penjelasan Syaikh ‘Ubaidillah tentang sebuah hadits yang redaksinya terasa aneh dan maknanya menajubkan karena berhubungan erat dengan kondisi zaman kita ini, maka semua Ulama hadits yang hadir dimajlis ini telah bersepakat untuk merujuk dan mengembalikan masalah ini kepada seorang Alim terbesar dalam ilmu hadits dizaman ini yaitu Syaikh Albaniy seorang Ulama Robbani.
Syaikh Abdush Shomad Syarafuddin berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ulama besar dalam ilmu hadits pada abad ini.
Syaikh Kamil Asy-Syarif Mantan Menteri Perwakafan dan Sekertaris Umum Majlis Islam Dunia Urusan Dakwah dan Bantuan berkata: Syaikh Albaniy adalah sosok kepribadian seorang yang produktif, teguh, sangat berpengaruh dan menjadi suri tauladan, serta ditambah lagi dengan keikhlasannya dalam menekuni suatu ilmu. Aku selalu mengikuti karya-karyanya, semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya disurga yang luas serta membalas atas ilmunya.
Doktor Sholih Al-‘Ubaid Sekertaris Robithoh Alam Islami berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang dihargai dan dihormati oleh kaum muslimin baik perorangan, kelembagaan, kelompok-kelompok maupun negri-negri Islam, bahkan pernah dianugrahi hadiah dan penghargaan oleh Raja Faishol Arab Saudi atas khidmahnya yang besar dalam mempelajari hadits-hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.
Doktor Habib Balkhujah Sekertaris Jendral Lembaga Fiqh Islam berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang sangat giat dalam berkhidmah kepada ilmu-ilmu islam, dan referensi bagi para Dosen dan para Syaikh.
Doktor Hamid Ahmad Ar-Rifa’i Sekertaris Umum Organisasi Konferensi Islam berkata: Syaikh Albaniy perannya sangat besar dalam berkhidmah kepada hadits dan sunnah Rosululloh yang suci, dan Syaikh Albaniy seorang Imam Mujaddid dan Saya telah mendengar Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata tentang Syaikh Albaniy, bahwasanya Syaikh Albaniy adalah seorang Mujaddid abad ini dalam ilmu hadits.
Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi seorang Muhaqqiq Besar dan Pemimpin Jama’ah Anshor Sunnah Muhammadiyyah Mesir berkata: Syaikh Albaniy adalah Saudara kami yang bermanhaj salaf, seorang Pembahas dan Peneliti yang cermat.
Syaikh Muhammad Shoffut Nuruddin Ketua Jama’ah Anshor Sunnah Muhammadiyyah Mesir berkata: Syaikh Albaniy adalah salah seorang tokoh terdepan yang memiliki karya tulis dalam jumlah besar dan telah banyak berbuat kebaikan, kesalahan-kesalahannya tenggelam dilautan kebaikannya, ucapan-ucapan para pencela tergilas oleh ungkapan-ungkapan mereka yang dengan ikhlas dan jujur memuji keberhasilannya.
Lajnah Daaimah Urusan Fatwa dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang berpengetahuan luas dalam ilmu hadits dan kritikannya terhadap hadits-hadits sangat kokoh dan kuat, demikian pula dalam menghukumi keshohihan dan kelemahannya.
Al-‘Allaamah Sayyid Muhibbudin Al-Khotib seorang Muhaqqiq Besar berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Da’i yang mengajak manusia kepada sunnah Rosululloh dan telah mewaqofkan seluruh kehidupannya dalam upaya menghidupkan sunnah. Syaikh Albaniy adalah saudara kami yang berada ditempat yang jauh, Asy-Syaikh Abu Abdirrohman Muhammad Nashiruddin Nuh Najati Al-Albaniy.
Syaikh Hammad bin Muhammad Anshori seorang Ulama hadits Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang berpengetahuan luas dalam ilmu hadits.
Syaikh Humud Tuwaijiri seorang Ahli Fiqh berkata: Syaikh Albaniy dizaman ini adalah seorang Imam pembawa bendera sunnah dan Siapa yang mencelanya maka sama saja dengan mencela sunnah.
Doktor Muhammad bin Luthfi Ash-Shobbagh berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ulama besar hadits dan Ahli hadits yang paling utama pada abad ini serta hidupnya dihabiskan dalam menegakkan sunnah yang suci baik berupa Ta’lim (mengajar/khutbah), Ta’lif (menulis/mengarang), Takhrij (mengeluarkan hadits) dan Tahkik (meneliti hadits dan manuskrip). Dan Beliau seorang yang mempunyai otak yang sangat cerdas sekali dan Hafalan yang baik serta kepribadian yang kuat.
Syaikh Abdul Aziz Sadhan berkata: Syaikh Nashiruddin Albaniy telah menghabiskan usianya dalam membela sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dari pemalsuan dan kedustaan. Maka, cukup baginya keselamatan aqidah yang dimiliki dan panutannya terhadap aqidah Salafush Sholih.
Syaikh Abdulloh Ubailan seorang Ulama hadits berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang peneliti besar yang hidup penuh dengan kezuhudan. Pada hakikatnya rangkaian kalimat-kalimat ini tidak mampu menceritakan tentang tokoh ini, seandainya Syaikh Albaniy tidak memiliki keutamaan selain sebagai seorang da’i besar yang mengajak umat kepada dakwah salafiyyah, pengamalan sunnah Rosul dan memperingati mereka dari bahaya bid’ah, maka hal itu telah cukup sebagai suatu kemuliaan baginya. Hal mana disebabkan karena Beliau hidup dan tumbuh besar bukan disebuah lingkungan yang dianggap Salafi.
Syaikh Abdulloh Ad-Duwaisy berkata: sejak beberapa abad, kita tidak menemukan seorang yang menyamai Syaikh Nashiruddin Albaniy dalam menghasilkan karya tulis dalam jumlah besar dan berkualitas. Demikian pula sejak wafatnya Imam Suyuthi hingga zaman ini, belum ada seorang pun yang mengadakan pendalaman ilmu hadits sebanyak dan secermat Syaikh Nashiruddin Al-Albaniy.
Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Bassam seorang Ahli Fiqh, Guru besar di Masjid Al-Harom Mekkah dan Anggota Majlis Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah salah seorang Imam di zaman ini yang telah mengorbankan diri, jerih payah dan harta bendanya untuk berkhidmah kepada sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.
Doktor Sholeh Fauzan seorang Ahli Fiqh dan Pakar Aqidah berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang pembela sunnah pada abad sekarang ini.
Syaikh Muhammad Ibrohim Alu Syaikh seorang Ahli fiqh, ushul fiqh dan Mufti Kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang memegang teguh sunnah Rosululloh dan pembela kebenaran serta penentang kebatilan.
Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad Al-‘Abbad Al-Badr seorang Ahli hadits, Mantan Rektor Universitas Islam Madinah dan seorang Guru besar di Masjid Nabawi Madinah berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ulama besar yang telah berkhidmah kepada sunnah Rosululloh, aqidahnya baik, dan tidak boleh menikamnya dengan tuduhan-tuduhan yang batil.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh Alu Syaikh seorang Ahli fiqh dan Mufti Kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah pembela sunnah Rosululloh di zaman ini dan salah seorang Ulama besar di abad ini yang terkenal dengan karya-karya yang banyak yang berkaitan dengan sunnah Rosul dan pengajarannya tentang sunnah. Diantara karyanya adalah Kitab ‘Irwaa’ul Gholil, Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shohihah dan Adh-Dho’ifah, serta kitab-kitab lainnya. Kami mohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar merahmatinya, mengampuninya dan menempatkannya di surganya yang luas.
Syaikh Ahmad bin Yahya Najmi seorang Ulama hadits dan Mufti Kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Muhammad Nashiruddin Albaniy adalah seorang Ahli hadits besar, Ulama yang terkenal, penulis karya-karya yang bermanfaat, peneliti hadits-hadits Rosululloh, bermukim di negara Suriah tepatnya di Syam, beraqidah salaf dan tidak ada seorang pun yang menandinginya dalam bidang hadits, semoga Alloh Azza wa Jalla membalas amal kebaikannya.
Doktor Mutafannin Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh seorang menteri urusan agama kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang mempunyai jasa besar dalam membela aqidah Salaf dan manhaj ahli hadits, memiliki karya tulis dalam jumlah besar yang berhubungan dengan khidmahnya terhadap hadits-hadits Rosululloh yang dimana Beliau telah memisahkan hadits-hadits yang shohih dari yang lemah. Pengaruhnya di dunia islam amat besar dan Beliau salah seorang Ulama umat ini yang memiliki jasa yang mulia dan sangat besar sekali. Syaikh Albaniy adalah seorang tokoh dan Ahli hadits umat ini, dengan perantaraan beliau Alloh yang maha besar dan maha tinggi memelihara agama ini serta menyebarkan sunnah Rosululloh.
Mutafannin Syaikh Muhammad bin Sholeh ‘Utsaimin seorang Ahli fiqh dan Ushul fiqh berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang sangat giat melaksanakan sunnah Rosul dan memerangi bid’ah baik dalam aqidah maupun amal ibadah. Aku mengetahui itu dari karya-karya tulisnya, Beliau memiliki banyak ilmu dalam hadits baik Riwayah (periwayatan) maupun Diroyah (mushtholahul hadits). Dan bahwasanya Alloh telah memberi manfaat kepada banyak orang dari hasil karyanya, baik berupa ilmu, manhaj serta pengarahan kepada ilmu hadits dan ini merupakan keuntungan yang besar bagi kaum muslimin. Dan sungguh Syaikh Albaniy telah menghidupkan sunnah Rosul ketika hidup dan sesudah wafatnya. Walhamdulillah.
Dan pada kesempatan yang lain Syaikh ibnu Utsaimin Berkata tentang Syaikh Albaniy sebagai seorang yang berpotensi, berpengetahuan luas serta sangat memuaskan dalam menyampaikan hujjah. Bahkan Syaikh Ibnu Utsaimin pernah melihat sebuah kaset yang termaktub di atasnya: Ahli hadits negeri syam, Muhammad Nashiruddin Albaniy, maka secara spontan Syaikh Ibnu Utsaimin Berkata: bahkan Ahli hadits pada abad ini.
Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i seorang Ahli hadits Yaman berkata: yang Aku yakini dan dengannya Aku beragama kepada Alloh bahwa Syaikh Albaniy termasuk para Mujaddid dalam agama ini yang sangat tepat baginya sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits shohih riwayat Abu Daud bahwasanya Rosululloh bersabda: Sesungguhnya Alloh mengutus kepada umat ini pada setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui urusan agamanya.
Dan Syaikh Albaniy Berkata: Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal telah mengisyaratkan keshohihan hadits ini sebagaimana yang dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya ‘Siyar A’lam An-Nubala’, jilid 10 halaman 46. dan Imam Ahmad Berkata: sesungguhnya Alloh menentukan bagi umat pada setiap seratus tahun seorang yang mengajari mereka sunnah-sunnah Rosul, membersihkan kedustaan dari apa yang disandarkan kepada Rosululloh. Maka kami melihat bahwa pada seratus tahun pertama (Mujaddid pada abad pertama) adalah Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun kedua (mujaddid pada abad kedua) adalah Asy-Syafi’i.
Doktor Robi’ bin Hadi Umair Al-Madkholi seorang Ahli hadits, Aqidah dan Manhaj berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Imam pembawa bendera sunnah dizaman ini, Beliau telah berkhidmah kepadanya dengan menshohihkan, mendho’ifkan (melemahkan) dan meneliti para rowinya. Beliau menentang bid’ah-bid’ah dalam banyak karyanya seperti dalam Kitab: Sifat sholat nabi, Sifat haji nabi, Hukum-hukum yang berkaitan dengan jenazah dan lainnya. Pada setiap kesempatan, Beliau selalu menyinggung tentang bid’ah dan mengingatkan agar mewaspadainya, serta menjelaskan tentang sunnah-sunnah Rosululloh. Beliau berjalan di atas prinsip yang telah ditetapannya yaitu Tashfiyyah (pemurnian islam dari segala hal yang tidak islami) dan Tarbiyyah (pembinaan umat di atas islam yang murni), maksudnya tashfiyyah dan tarbiyyah adalah pemurnian sunnah dari aqidah yang bathil, bid’ah-bid’ah serta dari hadits-hadits yang lemah dan palsu, dan kemudian membina umat di atas aqidah yang murni dan hadits-hadits yang shohih.
Syaikh Albaniy adalah seorang Imam di abad ini. Karya-karyanya sangat bermanfaat bagi umat dan menjadi salah satu sumber ilmu yang paling utama dan mudah yang menghubungkan pemahaman dengan para Salafush Sholih. Jerih payahnya yang telah disumbangkan kepada islam sebagai bukti bahwa Beliau adalah seorang Imam. Beliau telah memberi andil dalam jumlah besar dalam bentuk khidmah terhadap sunnah Rosululloh. Jilidan-jilidan besar dalam jumlah yang banyak telah diwariskannya untuk umat ini dan sesuatu yang sulit bagi seseorang di zaman ini untuk menyamainya kecuali para Salafush Sholih.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz seorang Ahli fiqh dan Mufti Kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang di kenal sebagai Ahli sunnah wal jama’ah, salah seorang di antara pembela sunnah Rosul, seorang Da’i yang mengajak kepada sunnah serta seorang Mujahid yang berjuang memelihara sunnah Rosululloh. Dalam menjawab surat Muhammad bin Ibrohim Asy-Syaibani (penulis kitab hayat albaniy), Syaikh bin Baz Berkata: kami maklumkan kepada anda bahwa Syaikh Albaniy adalah seorang yang kami kenal beraqidah baik, demikian pula perjalanan hidupnya serta dakwahnya kepada Alloh yang berkesinambungan. Syaikh Albaniy telah mengorbankan jerih payah dan kesungguhan yang patut di syukuri serta perhatian yang besar terhadap hadits-hadits Rosululloh, menjelaskan hadits-hadits shohih, lemah dan palsu. Begitu pula karya-karya tulisnya yang amat luas dan bermanfaat bagi kaum muslimin yang semua itu patut disyukuri. Kami doakan semoga Alloh melipat gandakan pahalanya, menolongnya dalam melanjutkan upayanya di jalan yang mulia ini serta menghiasi segala jerih payahnya dengan taufik dan keberhasilan. Dengan menutup suratnya, Syaikh bin Baz Berkata: Smoga alloh memberkahi segala upaya saudara dan sejawat kami Syaikh Muhammad Nashiruddin Albaniy, serta menambahinya ilmu dan petunjuk, semoga dengannya pula Alloh memberi pertolongannya kepada kebenaran.
Pada kesempatan yang lain Syaikh bin Baz Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang telah kami kenal akan kebaikan aqidah dan biografi kehidupannya serta dukungannya kepada madzhab Salafus Sholih. Syaikh Albaniy adalah seorang yang berpegang kepada madzhab Salaf. Dan Syaikh Albaniy adalah temen kami yang terpercaya dan terkenal, salah seorang di antara Saudara-saudara kami yang baik, Beliau adalah temen dan saudara kami Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin seorang Mujaddid (reformis). Dan Aku (Syaikh bin Baz) tidak mengetahui diabad ini seorang Ulama dalam ilmu hadits yang melebihi Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Albaniy. Demikian pula ketika Syaikh bin Baz ditanya tentang hadits shohih yang diriwayatkan Imam Abu Daud yang dimana Rosululloh bersabda: ‘sesungguhnya Alloh mengutus kepada umat ini pada setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui urusan agamanya’.
Siapakah Mujaddid abad ini wahai Syaikh bin Baz? Maka Syaikh bin Baz menjawab: ‘’Syaikh Muhammad Nashiruddin al-albaniy adalah Mujaddid abad ini menurut perkiraanku, Wallohu A’lam.
Doktor Bakar Abu Zaid berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang pembela dan penolong Sunnah Rosul serta Beraqidah Salaf.
Syaikh Zaid bin Abdul Aziz Al-Fayyadh berkata: Syaikh Muhammad Nashiruddin Albaniy adalah Seorang yang mempunyai banyak ilmu pada zaman sekarang ini.
Syaikh Abdulloh bin Sulaiman Al-Mani’ Ketua Mahkamah Pengadilan Tingkat Kasasi Mekkah dan Anggota Majlis Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi berkata: Syaikh Albaniy adalah Seorang Ulama besar Salafi dan Seorang yang memerangi bid’ah dan kesesatan.
Doktor Mutafannin Abdul Karim Al-Khudhoir berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Mujaddid pada abad ini dan Ulama besar dalam bidang ilmu hadits khususnya ilmu hadits riwayat.
Syaikh Usamah Al-Qusiy seorang Ahli Hadits Mesir, Tafsir dan Fiqh berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Mujaddid pada zaman sekarang ini, Beraqidah dan Bermanhaj salaf, Pandai dalam berdebat, Ahli fiqh, Ushul fiqh dan Ahli hadits diroyah maupun riwayat pada abad ini.
Syaikh Muhammad Ibrohim Syaqroh berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits pada zaman sekarang ini dan Beliau selama 18 jam di Maktabah setiap harinya untuk membaca, menulis, mentakhrij hadits dan meneliti suatu hadits dan manuskrip.
Prof. Dr. Amin Al-Mishri, Salah Pendiri Universitas King Abdul Aziz Di Jeddah Saudi Arabia Dan Juga Mantan Dekan Jurusan Hadits di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Dan Sebelumnya Dosen hadits di Universitas Syiria berkata : Bahwa Syaikh Al-Albaniy lebih berhak memperoleh kedudukan tersebut dari pada Saya  Dan menganggap diri Saya hanyalah murid Al-Albaani. Termasuk kemalangan dunia saat ini adalah memilih orang-orang seperti kami para Doktor untuk mengajar materi hadits di perguruan tinggi sementara masih ada orang yang lebih layak dari pada kami yang sebenarnya seperti kami ini belum layak menjadi muridnya dalam ilmu ini. Akan tetapi begitulah sistem dan tradisi yang berlaku.
Bahkan Syaikh Al-Albani lah orang pertama kali memasukkan materi ilmu Sanad ke dalam kurikulum bidang studi hadits yang diajarkan di perguruan tinggi. Beliau terhitung sebagai orang pertama di dunia yang memasukkan bidang studi ini dalam kurikulum perguruan tinggi. Sementara saat itu seluruh perguruan tinggi Islam di negara-negara Arab dan negara-negara Islam lainnya belum ada yang memasukkannya ke dalam kurikulum mereka. Sampai-sampai perguruan tinggi Universitas Al-Azhar Mesir yang klasik dan berpengalaman belum mengajarkan ilmu ini. Materi ini memberikan pengaruh yang positif setelah beliau meninggalkan Universitas Islam Madinah. Setelah itu bidang studi hadits ditangani oleh Saya. Dan Saya meneruskan apa yang telah dibuat oleh Syaikh Al-Albaani dan menyempurnakannya, sehingga para pelajar tergerak untuk mentahqiq Manuskrip-manuskrip hadits, semoga Allah merahmati Syaikh Albaniy.
DR. Muhammad Mushthofa Al-A'zhomi Pakar Hadits India Dan Guru Besar Hadits di Universitas Ibnu Su'ud di Riyadh Saudi Arabia berkata : apabila Syaikh Albaniy berbeda hukum denganku dalam masalah shohih dan lemahnya hadits, maka saya menetapkan pendapat Syaikh Albaniy, karena saya percaya kepadanya, baik dari segi ilmu dan agama.

REFERENSI
Yusuf Al-Qordhowi, Tsaqofah Ad-Daa’iyyah, Maktabah Wahbah, Kairo – Mesir, Cet. 13, 2004 M – 1425 H.
Yusuf Al-Qordhowi, Fatawa Mu’aashiroh, Jilid 2, Darul Wafa, Kairo – Mesir, Cet. 3, 1994 M – 1415 H.
Yusuf Al-Qordhowi, Al-Halal wa Al-Harom, Maktabah Wahbah, Kairo – Mesir, Cet. 4.
Abdulloh Al-Ghumari, Sabil At-Taufik Fii Tarjamati Abdulloh bin Ash-shiddiq Al-Gumari, Maktabah Al-Qoohiroh, Kairo – Mesir.
Muhammad Al-Majdzub, ‘Ulama’ wa Mufakkirun ‘Aroftuhum, Dar Asy-Syawaf, Riyadh – Arab Saudi, Cet. 4, 1412 H.
Nuruddin Tholib, Maqolat Al-Albaniy, Dar Athlas, Riyadh – Arab Saudi, Cet. 1, 2000 M – 1421 H.
Muhammad Sholih Al-Munajjid, Ahdats Mutsiiroh Fii Hayaati Asy-Syaikh Al-Allaamah Al-Albaniy, Darul Iman, Kairo – Mesir, 2000 M.
Ibrohim Muhammad Al-‘Aliy, Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy: Muhaddits Al-‘Ashr wa Naashir As-Sunnah, Darul Qolam, Dimasyq – Suriah, Cet. 3, 2005 M – 1426 H.
Muhammad Bayyumi, Al-Imam Al-Albaniy: Hayaatuhu Da’watuhu Juhuuduhu Fii Khidmah As-Sunnah, Dar Al-Ghod Al-Jadid, Kairo – Mesir, Cet. 1, 2006 M – 1427 H.
Muhammad Ibrohim Asy-Syaibani, Hayat Al-Albaniy Wa Atsaaruhu wa Tsanaau Al-‘Ulamaa’ ‘Alaihi, Mansyuurot Markaz Al-Makhthuuthot wa At-Turots wa Al-Watsaa’iq, Kuwait, Cet. 2, 2004 M – 1425 H.
Abdulloh Muhammad Asy-Syamrooni, Tsabatu Muallafat Al-Muhaddits Al-Kabir Al-Imam: Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-‘Arna’uthiy, Dar Ibnu Al-Jauzi, Riyadh – Arab Saudi, Cet. 1, 1422 H.
Maktabah As-Sabil, Hayat Al-Albaniy, Maktabah As-Sabil, Kairo – Mesir, Cet. 1, 2001 M – 1422 H.
Majalah Ash – Sholah, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo – Mesir.
Dan Lain-lain.

Saya kutib dari catatan akhi Agus Ariyanto Almadaniy

Senin, 14 Juli 2014

Wahabi, Mohammad Natsir dan Indonesia


Sejak dulu sampai masa kampanye Pilpres 2014 di Negeri kita tak jemu-jemunya mengangkat tema lama yaitu Wahabi. Spanduk salah satu Capres dengan bunyi “Menolak Ajaran Wahabi, Menjaga Tradisi” terpampang mesra disudut kota. Wahabi seolah seperti hantu yang menakutkan. Di Negeri ini Wahabi diidentikkan dengan Islam Garis Keras yang suka memaksakan kehendaknya, gemar menyesatkan sesama muslim dengan cap ahli bid'ah, takfiri dan tuduhan lainnya. Seolah-olah kaum Wahabi ini tidak layak tinggal di Republik Indonesia yang kita cintai. Padahal ajaran Wahabisme atau yang sering disebut Salafisme/ Salafi-Wahabi tidak lain hanya ingin mengajarkan semangat Purifikasi Agama. Mengajarkan Tauhid yang lurus yang menghindarkan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk.
Barangkali kita lupa akan sejarah Bangsa, atau kita yang malas membaca. Kaum Wahabi ikut serta dalam memerdekakan Bangsa ini dari Penjajahan Kolonial Belanda, baik jaman pra-kemerdekaan maupun pasca-kemerdekaan. Tidak usahlah kita sebut siapa-siapanya, karena buku-buku sejarah sudah menuliskannya. Tinggal kita mau membacanya atau tidak.
Saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang sosok Pahlawan Bangsa yang terkenal dengan Mosi Integralnya yang berhasil menyatukan kembali keseluruhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah dipecah belah oleh Belanda. Beliau adalah Mohammad Natsir -rahimahullahu ta'ala rahmatan wasi'atan-, Natsir muda belajar Agama kepada Ustadz A. Hassan -rahimahullahu ta'ala rahmatan wasi'atan- salah satu Ulama' Reformis di Indonesia. Pemikiran dan ajaran keislaman A. Hassan tertancap kuat didada Natsir. A. Hassan yang lancar berbahasa Arab dan Inggris itu, bersama para pendiri Persis, memang memelopori pendekatan baru dalam Agama. Dia melarang taqlid (membebek) pada pendapat Ulama', menghilangkan batas-batas madzab yang membelenggu dan juga banyak mengkritik kaum 'Alawiyyin yang selalu meminta kedudukan lebih tinggi dalam urusan Agama. Ajaran-ajaran A. Hassan ini sangat mencerahkan bagi Natsir, sampai-sampai beliau memutuskan untuk melempar kuliah hukum. Padahal menjadi ahli hukum adalah cita-cita Natsir. Saking kuatnya pengaruh A. Hassan dalam diri Natsir, beliau tuangkan dalam salah satu surat kepada anaknya, “Percakapan dan pertukar pikiran dengan Tuan A. Hassan itu banyak sekali pengaruhnya bagi jiwa dan arah hidup Abah selanjutnya. Sudah tentu yang dibicarakan soal agama. Dicampur dengan soal politik, soal pergerakan kemerdekaan.”
Kita bisa simpulkan bahwa ajaran Guru Agama Natsir ini dalam kacamata lawan-lawan politiknya pasti akan disebut ajaran Wahabi. Namun, apakah beliau mengajarkan pengrusakan dan pemecah belah persatuan ummat dan bangsa? Tentu tidak, beliau hanya mengajarkan pentingnya ummat akan kesadaran kembali kepada ajaran Islam yang murni yang bebas dari Takhayul, Bid'ah dan Khurafat.
Semangat pembelaan Natsir terhadap ajaran Islam salah satunya lewat tulisan. Beliau menggagas Madjallah Comitte "Pembela Islam". Natsir bahkan sempat mengkritik dengan keras kaum bid'ah dalam pergerakan. Menurut dia, kaum bid'ah adalah mereka yang suka mengadakan kegiatan maulud, pesta besar khatam Qur'an anak-anaknya, dan pesta perkawinan yang berlebihan. Natsir menganggap kaum bid'ah banyak bergabung dalam Partai Syarekat Islam Indonesia. Dalam tulisan di Pembela Islam edisi 62 misalnya: “kalaoe pergerakan politiek Islam membenarkan kaoem ahli bid'ah masuk djadi anggotanja, apakah beda pergerakan politik Islam ini dengan partij politik jang berasas kebangsaan jang menerima anggotanja dari orang-orang Islam tjap 'hanja bibir'?”
Itu semua merupakan secuil dari salah satu kisah kaum Islamiyyin pemersatu bangsa. Menyebut bid'ah terhadap sebuah amalan dan menyebut ahli bid'ah secara umum sudah mereka lakukan hampir satu abad yang lalu sebagai bentuk kritik dan pembelaan terhadap Islam. Oleh karena itu, tidak usahlah kita alergi dengan istilah bid'ah dan ahli bid'ah, yang ujung-ujungnya akan ditelikung ke isu Wahabi pemecah belah ummat dan bangsa. Bagi yang gemar mencap bahwa ajaran Purifikasi (Wahabi) adalah pemecah belah ummat dan bangsa silakan baca sejarah Mosi Integral dari seorang Natsir, yang corak keislamannya moderat sekaligus puritan yang identik dengan Wahabisme. Beliaulah yang menggagas bersatunya kembali wilayah-wilayah Republik setelah dipecah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 15 Agustus 1950, Presiden Soekarno membacakan Piagam Pembentukan Negara Kesatuan dalam sidang bersama parlemen dan senat Republik Indonesia Serikat. Dua hari kemudian, saat perayaan ulang tahun kelima proklamasi kemerdekaan, Presiden Soekarno mengumumkan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Momen bersejarah itu dikenang sebagai Proklamasi Kedua Republik Indonesia. Dan Mohammad Natsir patut dicatut sebagai sang arsitek utama.
Jikalau yang dimaksud Wahabi itu adalah sebuah manifestasi gerakan keislaman dengan semangat pembaharuan dan melawan segala jenis bid'ah dan macam-macamnya, dan corak keislaman Mohammad Natsir adalah demikian. Maka, kesimpulannya Wahabi adalah sebagai Pemersatu Republik. Titik.
Untuk lebih memuaskan kita tentang permasalahan dan pembahasan bid'ah, mari kita sama-sama mencari dan membaca tulisan Prof. Tengku Hasbi Ash Shiddiqie tentang macam-macam bid'ah dan pembahasannya yang ditulis sekitar tahun 1939. Juga buku yang ditulis KH. Moenawar Chalil berjudul Kembali Kepada Al Qur-an dan As-Sunnah yang terbit pertama kali sekitar tahun 1956. Juga buku-buku dan tulisan Buya Hamka dan A. Hassan. Ingat kata Bung Karno, "Jasmerah!"


Saya kutib dari tulisan Ustadz Muhammad Fikri Hidayatullah

Selasa, 08 Juli 2014

Beberapa Faedah Hadits ‘Amru Bin Syariid Tentang Pengharaman Isbaal


Telah menceritakan kepada kami Rauh: Telah menceritakan kepada kami Zakariyyaa bin Ishaaq: Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Maisarah: Bahwasannya ia pernah mendengar ‘Amr bin Syariid menceritakan dari ayahnya: Bahwasannya Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah mengikuti seorang laki-laki dari Tsaqiif dengan berlari-lari kecil hingga beliau memegang pakaian yang dikenakan orang tersebut. Lalu beliau bersabda: “Angkatlah kain sarungmu !”. Perawi berkata: Maka laki-laki tersebut menyingkap kedua lututnya seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kakiku bengkok dan saling beradu kedua lututku tersebut (yaitu : cacat)”. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap ciptaan Allah ‘azza wa jalla itu baik”. Perawi berkata: Maka orang tersebut tidak pernah terlihat sejak itu melainkan kain sarungnya hanya sampai pertengahan betisnya hingga ia meninggal dunia” [Al-Musnad, 4/390].

Pengkajian Sanad
Sanad hadits ini adalah shahih, semua perawinya adalah tsiqah. Berikut keterangan ringkasnya:
1.        Rauh, ia adalah Ibnu ‘Ubaadah bin Al-‘Alaa’ bin Hassaan bin ‘Amr bin Martsad Al-Qaisiy, Abu Muhammad Al-Bashriy (wafat tahun 207 H).
Termasuk perawi yang dipakai Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahiih-nya.
Ia telah di-tsiqah-kan oleh jumhur ulama. Al-Khathiib berkata: “Mempunyai banyak hadits, menulis kitab-kitab sunan dan ahkaam (hukum-hukum), dan menghimpun tafsir. Dan ia seorang yang tsiqah”. An-Nasaa’iy berkata: “Laisa bil-qawiy (tidak kuat)”. Yahya bin Ma’iin berkata: “Laisa bihi ba’s (tidak mengapa dengannya)”. Di lain kesempatan ia berkata: “Shaduuq (jujur), tsiqah”. Al-‘Ijliy berkata: “Orang Bashrah yang tsiqah” [selengkapnya lihat Taariikh Baghdaad, 9/385-391].
Ibnu Sa’d berkata: “Tsiqah in syaa Allah” [Ath-Thabaqaat, 7/296].
Adz-Dzahabiy berkata: “Al-Haafidh, menulis banyak kitab, dan termasuk ulama (yang diakui)” [Al-Kaasyif, 1/398 no. 1593].
Ibnu Hajar berkata: “Tsiqah, faadlil” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 329 no. 1973].
Al-Albaniy berkata: “Tsiqah, termasuk rijaal Shahihain” [Mu’jamu Asamiyir-Ruwaat, 2/30].
2.        Zakariyya bin Ishaaq Al-Makkiy.
Termasuk perawi yang dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.
Ahmad bin Hanbal berkata: “Tsiqah”. Yahyaa bin Ma’iin berkata: “Tsiqah”. Abu Haatim berkata: “Orang Makkah, tidak mengapa dengannya (laisa bihi ba’s)”. Abu Zur’ah berkata: “Tidak mengapa dengannya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/593 no. 2684].
Ibnu Syaahiin berkata: “Tsiqah” [Taariikh Asmaa’ Ats-Tsiqaat, hal. 138 no. 391].
Al-Juzjaaniy berkata: “Tertuduh berpemahan qadariyyah” [Ahwaalur-Rijaal, hal. 136 no. 339].
Adz-Dzahabiy berkata: “Tsiqah” [Al-Kaasyif, 1/405 no. 1641]. Ibnu Hajar berkata: “Tsiqah, tertuduh berpemahaman qadariyyah” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 338 no. 2031].
Al-Albaniy berkata: “Disepakati ke-tsiqah-annya” [Mu’jamu Asamiyir-Ruwaat, 2/46].
3.        Ibrahim bin Maisarah Ath-Thaa’iy (131 H).
Termasuk perawi yang dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.
Ibnu ‘Uyainah berkata: “Ibrahim bin Maisarah adalah orang yang paling benar (perkataannya) dan paling tsiqah”. Ahmad bin Hanbal berkata: “Tsiqah”. Yahyaa bin Ma’iin berkata: “Tsiqah”. Abu Haatim berkata: “Shaalih” [lihat Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/133-134 no. 423].
Al-‘Ijliy berkata: “Tsiqah” [Ma’rifatuts-Tsiqaat, 1/208 no. 42].
Ibnu Syaahiin berkata: “Tsiqah” [Taariikh Asmaa’ Ats-Tsiqaat, hal. 59 no. 41].
Adz-Dzahabiy berkata dengan menukil perkataan Al-Humaidiy: “Sufyaan (bin ‘Uyainah) pernah berkata kepadaku: ‘Matamu tidak akan pernah melihat orang semisal dengannya” [Al-Kaasyif, 1/226 no. 212].
Ibnu Hajar berkata: “Tsabt haafidh” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 117 no. 262].
Al-Albaniy berkata: “Tsiqah tsabt haafidh” [Mu’jamu Asamiyir-Ruwaat, 1/78].
4.        ‘Amru bin Asy-Syariid, ia adalah Ibnu Suwaid Ats-Tsaqafiy Abul-Waliid Ath-Thaa’iy.
Termasuk perawi yang dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.
Al-‘Ijliy berkata: “Tabi’iy tsiqah” [Ma’rifatuts-Tsiqaat, 2/177 no. 1387].
Ibnu Hiban memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat (5/180). Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 738 no. 5084].
5.        Asy-Syariid bin Suwaid Ats-Tsaqafiy, salah seorang shahabat Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam.
(Lihat biografinya dalam Asadul-Ghaabah 2/629 no. 2430, Tahdziibul-Kamaal 12/458-459 no. 2732, dan Al-Ishaabah 3/204 no. 3887.)
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thahaawiy dalam Syarh Musykiilil -Atsar no. 1708 dari jalan Rauh- selanjutnya dengan riwayat di atas.
Diriwayatkan juga oleh Al-Humaidiy no. 829 -dan dari jalannya Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 7/377-378 no. 7240- dari jalan Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amru bin Asy-Syariid atau Ya’quub bin ‘Aashim. Al-Humaidiy mengatakan bahwa Sufyan telah ragu-ragu dalam periwayatan ini.
Al-Haitsamiy membawakannya dalam Majma’uz-Zawaaid 5/124 dan berkata: “Para perawi Ahmad adalah para perawi Ash-Shahiih”.

Fiqh Hadits
Pertama, kasih sayang Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam terhadap umatnya dan beliau khawatir mereka terkena ‘adzab.
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Apa-apa yang berada di bawah mata kaki dari kain, maka tempatnya adalah di neraka" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Ahmad, ‘Abdurrazaq, dan yang lainnya].
Kedua, pengingkaran Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam semata-mata karena melihat orang tersebut melakukan isbal, tanpa membedakan apakah orang tersebut melakukannya dengan sombong atau tidak sombong. Sombong adalah adalah amal hati yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala.
Ketiga, shahabat Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam tersebut melakukan isbal bukan karena sombong, namun karena cacat pada kakinya. Akan tetapi beliau tetap memerintahkan mengangkat kain yang dipakainya.
Keempat, isbal termasuk masalah yang harus diingkari sebagai pelaksanaan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.
Dari Abu Sa’iid: Aku mendengar Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”.
Kelima, Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam bersegera dalam merubah kemunkaran.
Keenam, As-Salafush-shaalih bersegera dalam memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal itu ditunjukkan oleh persaksian perawi: “Maka orang tersebut tidak pernah terlihat sejak itu melainkan kain sarungnya hanya sampai pertengahan betisnya...”. Yaitu, sejak ditegur oleh beliau shalallaahu ’alaihi wasallam. Mereka takut akan ancaman yang difirman Allah ta’ala:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” [QS. An-Nuur: 63].
Ketujuh, Tsabat (tetap) dalam sunnah hingga meninggal dunia. Hal itu ditunjukkan oleh persaksian perawi: “Maka orang tersebut tidak pernah terlihat sejak itu melainkan kain sarungnya hanya sampai pertengahan betisnya hingga ia meninggal dunia”.
Kedelapan, Berhias tidak boleh menyalahi perintah Allah ta’ala.
Kesembilan, Setiap ciptaan Allah ta’ala itu indah.
Tidak ada ruang untuk mengatakan dalam hadits ini bahwa isbal diperbolehkan asalkan tidak sombong.
Inilah ringkasan faedah yang sempat terekam di memori dan catatan dari penjelasan Ustadzuna Yazid Jawas -semoga Allah senantiasa menjaga beliau- pada hari Ahad, 25 April 2010 pukul 10.00 -adzan Dhuhur di Masjid Imam Ahmad bin Hanbal, Bogor- dengan beberapa keterangan tambahan dari Abul-Jauzaa’ (Ustadz Doni Arif Wibowo).
Wallahu a’lam bish-shawwaab.


Saya kutib dari catatan Ustadz Doni Arif Wibowo

 
Back To Top