Minggu, 28 Desember 2014

Mengapa Mereka Membenci Khalifah Sulaiman al-Qanuni (King Sulaiman the Magnificent) – bag 2


Penaklukan Pulau Rodos
(13 shafar 929 H/1 Januari 1523 M)
Pulau Rodos bagaikan duri pengahalang di kerongkongan Daulah Utsmaniyyah. Pulau Rodos terkenal dengan benteng-bentengnya yang kokoh dan langka sehingga Sultan-Sultan kaum muslimin tidak bisa menaklukkannya bahkan seperti Sultan Muhamad al-Fatih.
Pulau Rodos dihuni oleh kaum nashrani Roma yang digelari Knight of St. John yang terusir dari negeri Syam. Mereka di bawah kendali Paus di Roma. Dan mereka sangat membenci kaum muslimin. Selama tinggal di sana mereka sering menyamun kapal-kapal kaum muslimin yang menuju Hijaz. Mereka membunuhi kaum laki-laki, memperkosa para wanita dan menawan anak-anak kecil serta merampas harta dan membunuh jamaah haji dan membakar kapal-kapal kaum muslimin. Mereka memanfaatkan pulau dan benteng mereka yang kokoh sehingga mereka yakin bahwa kaum muslimin tidak akan bisa mencapai mereka.
Suatu ketika kaum salibis di Rodos merompak salah satu kapal islamiyah yang penuh muatan jama’ah haji dan pedagang kaum muslimin. Mereka membunuh seisi kapal dan membakar kapal tersebut.
Sultan Sulaiman al-Qanuni mendengar berita ini. Maka bangkitlah amarah beliau karena Allah. Dan ia bersumpah tidak akan beristirahat sampai berhasil menaklukan pulau Rodos dan mengusir orang-orang kafir darinya.
Tanpa menunda-nunda, Sultan Sulaiman segera menyiapkan pasukan untuk merebut pulau Rodos di darat dan di laut. Ia memanfaatkan Raja-Raja Eropa yang sedang berperang sesama mereka. Di samping itu Paus di Vatikan sibuk menghadapi dakwah Martin Luther dan bangkitnya kristen protestan.
Sultan Sulaiman mengirimkan pasukan besar yang dipimpin Musthofa Baasya dengan kekuatan 200 ribu prajurit, didukung dengan meriam-meriam yang sangat banyak serta 700 kapal perang. Dimulailah penyerangan terhadap dinding-dinding benteng Rodos. Hanya saja, itu tidak menimbulkan dampak yang berarti dikarenakan kokohnya pertahanan pulau Rodos.
Maka Sultan Sulaiman murka, ia pun berangkat membawa pasukan-pasukan mujahidin. Beliau memimpin langsung penyerangan ke pulau Rodos. Sultan mengepungnya selama 6 bulan penuh dan terus mempersempit pengepungan. Selama pengepungan itu kaum muslimin terus menghujani benteng Rodos dengan meriam bak hujan turun. Sehingga jumlah tembakan meriam sampai 220 ribu tembakan.
Sumber-sumber sejarah menyebutkan kondisi cuaca saat pengepungan benteng pulau Rodos bahwasanya cuaca sangat buruk, hujan terus-menerus mengguyur kaum muslimin, kilat menyambar dan petir memekakkan telinga, namun itu semua tidak membuat mujahidin surut ke belakang.
Akhirnya para Knight of St. John menyerah.
Sultan Sulaiman memberi mereka waktu 12 hari untuk keluar dari pulau itu. Dan beliau memberi jaminan keamanan untuk mereka dan untuk gereja serta agama mereka. Memang seperti itulah sikap Sultan Sulaiman setiap kali menaklukan negeri nashrani di Eropa.
Kemudian Sultan Sulaiman al-Qanuni memasuki pulau Rodos pada 13 Shafar 929 hijriyah atau 1 Januari 1523 masehi.
Maka gemparlah singgasana nashraniyah di Roma dan seluruh dunia. Dan keluarlah Knight of St. John dari pulau tersebut dengan kepala tertunduk merasa hina dan kalah, mereka pergi ke pulau Malta dan kemudian di gelari Knight of Malta.
Sejarawan Abdurrahim al Abbasi salah seorang saksi mata peristiwa ini menceritakan di dalam kitabnya “Minahu Robbil Bariyyah fi Fathi Rudas al Abiyya” bahwa kaum muslimin mendapati di pulau ini 3000 orang yang ditawan Knight of St. John dalam keadaan menggenaskan karena azab dan siksaan yang mereka alami.
Ia menceritakan para mujahidin menangis saat melihat kondisi para tawanan tersebut. Sultan Sulaiman memerintahkan prajuritnya membersihkan gereja dari gambar dan berhala lalu dibuatkanlah mimbar sederhana dari kayu dan ditegakkanlah sholat Jum’at dengan Sultan sebagai Khatib, walillahi al Hamdu wal Minnah.
Wallahu A’lam


Mengapa Mereka Membenci Khalifah Sulaiman al-Qanuni (King Sulaiman the Magnificent) – bag 1


Simak kisah singkat ini :
Pernahkah anda mendengar tentang perang Mohacs? Sesungguhnya itu bukanlah perang, tetapi pembantaian. Peristiwa ini terjadi pada 21/11/932 hijriyah.
Ringkas cerita, utusan Khalifah Utsmani Sulaiman al-Qanuni berangkat untuk mengambil jizyah dari Raja Hongaria dan pemimpin Eropa ketika itu Luis II. Maka atas saran paus di Vatikan, Raja Hongaria membunuh utusan Sulaiman al-Qanuni. Mendengar berita itu bersiap-siaplah Sulaiman al-Qanuni untuk menyerang Eropa. Begitu juga gereja dan Eropa menyiapkan pasukannya.
Sulaiman al-Qanuni menyiapkan pasukan yang terdiri dari 100.000 prajurit, 350 meriam dan 800 kapal perang. Sedangkan kekuatan Eropa 200.000 pasukan berkuda, 35 ribu diantaranya bersenjata lengkap dengan baju besi.
Sulaiman dan pasukannya menempuh jarak 1000 kilometer dan berhasil merebut benteng-benteng sepanjang perjalanannya, guna mengamankan jalan ketika menarik pasukannya mundur jika terjadi kekalahan. Beliau dan pasukannya melewati sungai dan menunggu di lembah Mohacs selatan Hongaria dan timur Rumania menanti pasukan Eropa yg terdiri dari Hongaria, Rumania, Kroasia, Buhemia, Kekaisaran Romawi, negara kepausan dan Polandia. Masalah yang dihadapi Sulaiman adalah banyaknya pasukan berkuda Romawi dan Hongaria yg tertutup penuh oleh baju besi yang sulit ditembus panah atau peluru.
Lalu apa yang ia lakukan?
Setelah selesai sholat subuh ia berdiri dihadapan pasukannya yang menatap pasukan Eropa yang banyak yang tidak terlihat ujungnya. Kemudian ia berkata disertai tangisan (sesungguhnya Ruh Nabi Muhammad melihat kalian dengan kerinduan dan cinta) maka menangislah semua pasukan kaum muslimin.
Kemudian, kedua pasukan saling berhadapan…
Taktik perang Sulaiman adalah sebagai berikut :
Ia membagi pasukannya menjadi tiga barisan sepanjang 10 km. Dan pasukan Inkisyaariah di garis depan, mereka ini adalah prajurit pilihan. Kemudian di barisan kedua pasukan berkuda dengan senjata ringan dan pasukan pejalan kaki (infanteri) diantara mereka adalah relawan. Adapun barisan ketiga adalah beliau dan pasukan meriam.
Pasukan Eropa menyerang setelah shalat Ashar. Maka Sulaiman memerintahkan pasukan Inkisyaariyah bertahan selama satu jam saja. Kemudian ia memerintahkan mereka lari.
Dan ia perintahkan pasukan lapis kedua untuk membuka jalan pelarian ke kiri dan ke kanan bukan ke belakang.
Sesuai arahan Sulaiman, para pahlawan pasukan Inkisyaariah bertahan dengan gagah berani. Dan berhasil menghancurkan kekuatan Eropa dengan sempurna pada dua penyerangan bertubi-tubi yang dilancarkan Eropa. Dalam satu serangan saja habis 20 ribu pasukan Eropa.
Kemudian kekuatan inti pasukan Eropa serempak menyerang. Tibalah saat melarikan diri dan dibukalah jalan untuk lari, maka mundurlah pasukan Inkisyaariah ke sisi kiri dan kanan diikuti pasukan infanteri, sehingga jantung pasukan Utsmani benar-benar terbuka, kemudian masuklah 100 ribu pasukan Eropa sekaligus menuju (jebakan) jantung pasukan kaum muslimin. Dan inilah awal pembantaian itu.
Mereka langsung berhadapan dengan meriam-meriam pasukan Utsmaniyah tanpa mereka sadari. Meriam-meriam itu langsung menyalak menyambut 100 ribu pasukan Eropa yang tidak sadar telah masuk jebakan.
Tidak sampai satu jam musnahlah pasukan Eropa semua dihantam meriam dari segala arah, menjadi kenangan hitam orang-orang kafir sampai saat ini. Sisa-sisa pasukan Eropa di garis belakang berusaha lari menyeberangi sungai, apa daya karena ketakutan dan berdesak-desakan ribuan prajurit tenggelam di sungai.
Akhirnya pasukan Eropa hendak menyerah. Dan keputusan Khalifah Sulaiman al Qanuni yang tidak pernah dilupakan Eropa sampai sekarang dan mereka mengingatnya dengan penuh dendam. Sulaiman memutuskan : Tidak Ada Tawanan..!
Maka pasukan Utsmaniyyun menyerahkan kembali senjata kepada pasukan eropa yang ditawan agar mereka berperang lagi atau dibunuh!
Akhirnya mereka kembali berperang dengan putus asa.
Berakhirlah perang dengan tewasnya raja Hongaria Louis II beserta para uskup yang tujuh orang mewakili nashrani dan utusan Paus dan 70 ribu pasukan. Disamping itu 25 ribu ditawan dalam keadaan terluka.
Pasukan Utsmaniyyah melakukan parade militer di Ibu Kota Hongaria. Setelah dua hari mengurus urusan kenegaraan di sana, Khalifah Sulaiman kembali pulang ke Turki. Pasukan Utsmaniyyah yang gugur dalam perang itu hanya 150 orang saja dan tiga ribu terluka. Selebihnya pasukan masih sempurna tanpa kurang suatu apapun, walhamdulillah.
Wallahu A'lam

Senin, 22 Desember 2014

Asal Usul Hari Ibu


Eropa
Satu aliran pemikiran mengakui bahawa perayaan ini lahir dari satu adat pemujaan ibu di Yunani Purba, yang menyambut satu perayaan untuk Cybele, ibu dewa-dewi Yunani yang agung. Perayaan ini diadakan sekitar equinoks musim bunga di Asia Kecil dan tidak lama kemudian di Rome dari 15 hingga 18 Mei.
Orang Rome Purba juga menyambut suatu perayaan yang bernama Matronalia bagi memperingati dewi Juno, dan ibu lazimnya diberi hadiah pada hari ini.
Orang-orang Yunani pula menganggap ‘Hari Ibu’ sebagai perayaan musim bunga dan penghormatan terhadap Rhea, ibu kepada tuhan mereka. Pada tahun 1600 orang-orang Inggris merayakan hari yang mereka namakan sebagai “Mothering Sunday”. Ia dirayakan pada hari Ahad keempat setiap Lent. Lent adalah tempoh masa selama 40 hari sama dalam bulan Februari atau Mei. Dalam tempoh ini, sebagian orang-orang Kristian akan berhenti melakukan atau memakan makanan tertentu atas alasan agama. Amalan tersebut adalah sebagai penghormatan mereka terhadap Mother Mary. Mother Mary adalah Maryam, ibu kepada Nabi Isa Alaihissalam atau Jesus yang mereka anggap sebagai tuhan.
Perayaan ini bersamaan hari kenduri Persembahan Nabi Isa di Kuil dalam mazhab Ortodoks Timur. Oleh sebab Theotokos (Ibu Tuhan) amat penting dalam perayaan ini karena membawa Christ ke Kuil Jerusalem, perayaan ini dikaitkan dengan ibu. Namun begitu, sekarang ini banyak orang Yunani cenderung menyambut Hari Ibu mengikut negara Barat yang lain.
Dalam tempoh tersebut, kebanyakan rakyat Inggris yang faqir dan miskin akan bekerja sebagai pembantu rumah. Mereka keluar jauh meninggalkan keluarga karena percaya bahawa Jesus akan memberikan kekayaan dan kesenangan dalam tempoh tersebut. Menjelang hari Ahad keempat, mereka digalakkan untuk bercuti oleh majikan dan pulang ke kampung untuk bertemu dengan ibu. Setiap ibu akan dihadiahkan dengan Mothering Cake atau kue hari ibu pada perayaan tersebut.
Amalan dan tradisi ini menular ke seluruh dunia dan ia kini disambut sebagai penghormatan kepada Mother Church. Mother Church dianggap sebagai kuasa spiritual yang agung yang memberi manusia kehidupan dan memelihara mereka dari sebarang kecederaan. Sejak dari itu, perayaan Mothering Sunday telah dicampur dengan upacara kegerejaan. Penghormatan mereka terhadap ibu sama dengan penghormatan mereka terhadap GEREJA.

Amerika Serikat
Di Amerika Syarikat, Hari Ibu disambut sejak awal tahun 1872, hasil ilham Julia Ward Howe. Dia adalah seorang aktivis sosial dan telah menulis puisi “The Battle Hymn of The Republic” (TBHoTR). TBHoTR telah dijadikan lagu patriotik yang popular di kalangan warga Amerika. Ungkapan “Halleluyah” dalam bait-bait lagu tersebut menyerahkan lagi sentuhan Yahudi dan Zionis dalam mencaturkan politik dunia.
Pada tahun 1907 Anna Jarvis dari Philadelphia telah memulai kampanye untuk melancarkan Hari Ibu. Dia telah berhasil mempengaruhi Mother’s Church di Grafton, West Virginia agar merayakan dan meramaikan Hari Ibu pada hari ulang tahun kedua kematian ibunya, yaitu pada hari Ahad kedua dalam bulan Mei. Semenjak hari itu, Hari Ibu dirayakan setiap tahun di Philadelphia.
Anna Jarvis dan pendukung-pendukungnya telah menulis surat kepada menteri, pedagang dan ahli-ahli politik agar Hari Ibu disambut secara meluas di seluruh wilayah. Tujuan mereka telah berhasil sepenuhnya pada tahun 1911, hari tersebut disambut oleh hampir seluruh wilayah di Amerika. Pada tahun 1914, Presiden Woodrow Wilson, secara rasmi telah mengisyaratkan Hari Ibu sebagai hari cuti umum dan mesti rayakan pada setiap hari Ahad kedua dalam bulan Mei.

Asia
Hari Ibu juga disambut pada hari yang berbeda-beda di daerah Asia karena berbagai macam sumber asal-usulnya.
Di China, Hari ibu disambut sebagai memperingati Meng Mu, ibu kepada Mencius.
Di Thailand, Hari Ibu dirayakan untuk memperingati hari keputeraan Ratu Sirikit Kitiyakara pada 12 Agustus. Manakala 1 Juni di Mongolia adalah Hari Ibu dan anak-anak sedunia juga disambut dengan serentak. Mongolia adalah satu-satunya negara yang menyambut Hari Ibu dua kali dalam setahun.


Penulis : akhi Abu Fahd NegaraTauhid
Baca juga tulisan sebelumnya : Hari Ibu dalam Pandangan Islam

Hari Ibu


Seandainya hari ibu itu baik, niscaya para orang-orang shalih terdahulu (dari para nabi, shahabat, dan imam-imam / ulama-ulama yang mengikuti mereka) sudah berlomba-lomba membuat hari ibu. Tapi rupanya tidak pernah ditemukan sepanjang sejarah Islam selama berabad-abad lamanya, baik di dalam manuskrip-manuskrip dan kitab-kitab sejarah, sedikitpun, atau sebarispun, kalau ada dari mereka (orang-rang shalih) tersebut yang membuat atau merayakan hari ibu.
Hal itu menunjukkan bahwa hari ibu bukan perkara yang baik di mata mereka (orang-orang shalih), padahal mereka adalah selalu mendahului kita dalam kebaikan, dan kita tidak akan mampu mendahului mereka dalam kebaikan.
Bukan berarti mereka tidak memuliakan dan tidak menghormati ibu-ibu mereka, justru seluruh tauladan-tauladan dan cerita yang ada dalam sejarah yang menjelaskan dan mencontohkan birrul walidain (bakti kepada orang tua) ada semuanya pada mereka, dan kita dibanding mereka ibarat setetes air diatas samudera.
Adapun sejarah hari ibu yang terjadi saat ini berawal dari perayaannya orang-orang kuffar (non muslim), harap digaris bawahi: bukan dari Islam!.
Justru sebagian sejarah menceritakan bahwa hari ibu diambil dari perayaan-perayaan orang-orang kuffar untuk berhala-berhala mereka. Kemudian perayaan-perayaan tersebut diadopsi oleh banyak negeri-negeri kafir untuk diberlakukan di negerinya.
Kita sebagai seorang muslim yang beriman, siapakah yang harus kita pilih untuk diikuti? Hanya ada 2 opsi...
Memilih mengikuti mereka (orang-orang shalih terdahulu), atau mengikuti adat kebiasaan orang-orang kuffar terdahulu? Yang mereka kurang memuliakan, menghormati, memperhatikan ibunya sendiri, hingga mereka membuat hari ibu setahun sekali sebagai bentuk perhatian dan balasan mereka kepada ibunya. Sungguh tidak adil...

Penulis : akhi Abu Fahd NegaraTauhid
Baca juga tulisan yang terkait : Asal Usul Hari Ibu

 
Back To Top