Sabtu, 10 November 2012

Hakikat Syi'ah




“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.”
”Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
”Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah.”
”Aku berlepas diri kepada Allah dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah dan seluruh musuh-musuh Ahlu Bait Rasulullah SAW.”
Lalu di Teruskan dengan Sahadat ke 13 kepada pada IMAMNYA:
“Aku bersaksi bahwa Ali Amirul Mu`minin adalah wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Fathimah Az-Zahra adalah Hujjah Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Al-Hasan adalah Hujjah Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Al-Husein adalah Hujjah Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Ali As-Sajjad adalah Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Muhammad Al-Baqir adalah Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Ja’far Ash-Shadiq adalah Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Musa Al-Kazhim Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Ali Ar-Ridha Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Muhammad Al-Jawad Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Ali Al-Hadi Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Al-Hasan Al-Askari Wali Allah.”
“Aku bersaksi bahwa Muhammad Al-Mahdi Hujjah Allah.”
Syi’ah memiliki 5 (lima) Rukun Iman yg berbeda dengan rukun iman risalah yang di anjurkan Rasulullah saw

Rukun Iman SYIAH
1.    Tauhid (Keesaan Allah)
2.    Al-Adl (Keadilan Allah)
3.    Nubuwwah (Kenabian)
4.    Imamah (Kepemimpinan Imam)
5.    Ma’ad (Hari Kebangkitan dan Pembalasan).
dan Syi’ah juga tidak mencantumkan Syahadatain dalam Rukun Islam mereka.

Rujun Islam SYIAH
1.    Shalat
2.    Zakat
3.    Puasa
4.    Haji
5.    Waliyah (Perwalian).
Kitab hadist Syiah, Al-Hujjah minal Kaafie /26, hadits no.1 :
"Tidak ada seorang pun dari umat manusia yang mengaku bahwa dia telah mengumpulkan Al-Qur`an sebagaimana yang diturunkan oleh Allah, kecuali dia itu adalah pendusta. Dan tidak ada yang mengumpulkan dan menghafalnya seperti yang diturunkan oleh Allah Ta'ala kecuali Ali bin Abi Thalib dan para imam setelah beliau."
Syiah meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur`an, yaitu Mushaf Fathimah yang diturunkan kepada Fatimah melalui Malaikat Jibril yang brjumlah 17.000 ayat (kitab Al-Kaafie 1/239), yang masih disembunyikan oleh Imam Mahdi (Muhammad bin Hasan Al-Askari) mulai dari Ghaib Kubra yang bersembunyi di gua Samarro (Iraq) sejak tauhn 329 H yang selalu diziarahi oleh orang-orang Syiah dan memohon agar segera keluar untuk memimpin dunia. (inilah keyakinan Syiah).
Kitab hadist (syiah) Ushuulu Madzhabi Asy-Syiiah 2/102 :
“Sesungguhnya tatkala Allah SWT mewafatkan Nabi-Nya SAW, maka Fatimah AS merasa sedih atas wafatnya beliau tersebut, yang rasa sedihnya tidak ada yg tahu kecuali Allah Azza wa Jalla. Maka Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk menemui Fatimah untuk meringankan rasa sedihnya dan mnghiburnya. Maka Fatimah pun mengadukan hal ini kepada Amirul Mukminin RA, maka dia brkata:
"Jika engkau (Fatimah) merasakan kembali hal trsebut dan engkau mendengarkan suara, maka katakanlah kepada aku. Maka Fatimah pun memberitahukan hal tersebut kepada Ali. Maka Ali mulai mencatat semua yang dia dengar (dari Fatimah) sampai menjadi sebuah mushaf. (di dalam mushaf Fatimah ini tidak mengandung halal dan haram, akan tetapi berisi tentang ramalan yg akan trjadi.)
Kitab Al-Anwaar An-Nu'maaniyyah, jilid 2/360-362 disebutkan :
“Telah berkata Syaikh mereka yaitu Nikmatullah Al-Jazairi bahwasanya telah tersebar kabar bahwa tidak ada yang mampu menyusun Al-Qur`an seperti yang diturunkan kecuali Amirul Mukminin Ali bin abi thalib sampai dia mengucapkan Al-Qur`an trsebut sekarang berada di sisi Paduka kami Al-Mahdi RA berikut kitab-kitab samawi lainnya dan peninggalan para nabi.”
Mengingkari keotentikan dan kebenaran Al-Qur`an
Syiah meyakini bahwa Al-Qur`an Utsmani tidak asli, karna telah dirubah oleh para sahabat. Ahlu Sunnah berkata bahwa jumlah seluruh ayat di dalam Al-Qur`an adalah 6236 ayat. Akan tetapi di dalam kitab Syiah Al-Kaafie fil Ushuul 2/634 disebutkan :
“Sesungguhnya Al-Qur`an yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Muhammad SAW adalah berjumlah 17.000 ayat.”
Menafsirkan Al-Qur`an secara mnyimpang :
Dawud Al-Jassos berkata: “Aku pernah mendengar Abu Abdullah AS brkata: “Dan dengan tanda-tanda dan dengan bintang mereka mendapatkan petunjuk. Dia berkata: “Yang dimaksud dengan bintang adalah Rasulullah SAW dan yang dimaksud dengan tanda-tanda adalah para imam AS.”
Mengingkari kedudukan hadits nabi sebagai sumber ajaran islam
Syiah tidak mengakui keabsahan Al-Kutub As-Sittah yaitu Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Majah sebagai rujukan. Mereka hanya mau menerima hadits jika diriwayatkan oleh Ahlul Bait dari golongan mereka sendiri. Mereka mempunyai kitab tersendiri yaitu:
1.    Al-Kaafie,
2.    At-Tahdziib,
3.    Al-Istibshaar dan
4.    Man Laa Yahdhuruhul Faqiih.
Kitab-kitab ini sulit didapatkan. Di dalam kitab Ashlu Asy-Syiah wa Ushuuliha karangan Muhammad Husain Kasyif Al-Ghitha hal. 79 disebutkan:
"Sesungguhnya orang-orang Syiah tidak menganggap sunnah (maksudnya hadits-hadits nabi), kecuali apa-apa yang shahih menurut mereka yang diriwayatkan dari jalan Ahlul Bait mereka adapun hadits-hadits yang diriwayatkan seperti oleh Abu Hurairah, Samurah dan Amer bin Ash dan yang semisalnya, maka mereka itu di dalam pandangan Imamiyah (Syiah) kecuali hanya seperti nyamuk."
Syiah, Menghina, Melecehkan dan atau Merendahkan Nabi dan Rasul
Syiah beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih mulia dari para nabi dan rasul. Bahkan Ali pernah mnenerima lembaran wahyu dari Allah SWT yang Nabi SAW aja tidak mngetahui apa isi lembaran trsebut. Juga Syiah beranggapan bahwa dakwah Rasulullah SAW tidak brhasil. Sebab setelah beliau wafat, ternyata para sahabat kembali murtad, kecuali hanya 3 orang sahabat saja.
Di dalam kitab hadist syiah Ar-Raudhah minal Kaafie 8/245 disebutkan:
“Adalah para sahabat mnjadi murtad setelah wafat Rasulullah SAW, kecuali hanya 3 orang sahabat aja:
1.    Al-Miqdad bin Al-Aswad
2.    Abu Dzar Al-Ghifari dan
3.    Salman Al-Farisi.”
“Adalah para imam kami lebih utama dari semua para nabi yang mana hal ini tidak diragukan lagi bagi orang yang sering menelaah berita atau kabar mereka AS dgn cara pasti dan yakin.”..(Bihaarul Anwaar, karya Al-Majalisi, jilid 26 hal. 297-298)
“Di antara ajaran penting madzhab kami bahwasanya bagi para imam itu mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh Malaikat yang sngat dekat dan tidak juga oleh nabi yang diutus.” (Al-Hukuumah Al-Islaamiyyah karya Khumaini, hal. 52).
Syiah mngubah shalat 5 waktu mnjadi 3 waktu atau 1 waktu dengan jamak dan qasar tanpa syarat:
1.    Mengharamkan shalat Jum'at
2.    Mewajibkan wuquf/haji ke Karbala Iraq dan
3.    Menganjurkan kepada kaum muslimin untuk mengalihkan kiblat ke Karbala Iraq dan tidak ke Mekkah lagi
“Syiah telah menghentikan ibadah Jum’at karena Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu masih ghaib. Hal ini semakna ketika orang-orang Syiah dilarang menunjuk seorang Imam bagi kaum muslimin. Mereka berkata:
“Shalat Jum’at dan pemerintahan itu bagi Imam kaum muslimin, sedangkan Imamnya yaitu imam yang sedang ditunggu-tunggu itu.” (Ushuulu Madzhabi Asy-Syiiah, 2/386).
Imam Ridha berkata: "Dan kami membolehkan shalat atas mayat tanpa wudlu, karena dalam shalat tersebut tidak ada rukuk dan sujud, sedang kewajiban wudlu itu hanyalah untuk shalat yang ada rukuk dan sujud.” (Fiqih Ja’fari, hal. 46).
“Jika engkau shalat di belakang seorang imam, lalu ia mmbaca Al-fatihah dan selesai, maka ucapkanlah: "alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin."..Janganlah engkau mengucapkan aamiin.” (Fiqih Ja’fari, hal. 173).
Dari Dawud bin Farqad dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdullah: ”Bagaimana pendapat Tuan tentang An-Nashib (orang non Syiah)?”
Maka dia menjawab: “Halal darahnya (boleh dibunuh) Akan tetapi aku bertaqiyyah dengannya. Kalau engkau mampu menimpakan dinding kepadanya atau engkau menenggelamkannya ke dalam air supaya dia (non Syiah) tidak bisa bersaksi atas perbuatanmu ini, maka kerjakanlah.”
Aku bertanya kembali: “Bagaimana dengan hartanya?”
Dia menjawab: “Ambillah apa yang engkau bisa ambil.” (Al-Anwaar An-Nu’maaniyyah karya Al-Jazairi, 2/308).

Sufi bukan Bagian dari Islam karna Sufi sama seperti Syiah




Tasawuf merupakan gerakan berpola pikir filsafat klasik yang mengekor kepada para filosof dan ahli syair Romawi, India dan Persia. Namun, dalam hal ini, kita akan membatasi kajian masalah sufi dengan berkedok Islam.
Kedok Islam ini dikenakan sebagai upaya menutupi hakikatnya. Maka barangsiapa yang meneliti dan mengamati gerak-geriknya, niscaya akan berkesimpulan, bahwa sufi bukan Islam. Baik menyangkut aqidah, prilaku dan pendidikan.

MENGENAL BEBERAPA KEYAKINAN SUFI
Sesungguhnya para penguasa sufi telah berusaha memelihara keyakinan-keyakinan tasawuf, yakni, dengan merancukan dan menghapuskan ayat-ayat Al-Kitab Al-Karim. Membolak-balik, serta merubah pemahaman Sunnah An-Nabawiyah yang telah suci. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menakdirkan untuk agama ini, orang-orang yang memperbaharui agama-Nya.
Yakni, dengan membersihkan Islam dari bermacam aqidah dan filsafat yang mengalir dalam benak manusia akibat pengaruh pola pikir keberhalaan. Maka, diungkaplah borok-borok mereka, dipilah perkataan mereka serta diterangkan kebohongannya. Metoda merekapun dibuyarkan dengan menelaah kitab-kitab induk sufi. Berikut secara ringkas ditampilkan keyakinan-keyakinan mereka.

ILMU LADUNI
Istilah ini dikaitkan kepada firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala tentang nabi Khidir:
"wa 'allamnaahu min Ladunnaa 'ilmaan" Artinya :...Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.". [Al-Kahfi : 65].
Yang dimaksud dengan ayat diatas, menurut mereka, adalah disingkapnya alam ghaib bagi mereka. Caranya, dengan kasyaf (penyingkapan), tajliyat (penampakan) serta melakukan kontak langsung dengan Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka berdalil dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. "Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengganjari kepada kalian semua". [Al-Baqarah : 282].
Pemikiran ilmu laduni dipelopori oleh Hisyam Ibnu Al-Hakam (wafat 199H), seorang penganut Syi'ah yang mahir ilmu kalam. Ia berasal dari Kufah. Orang-orang sufi, dalam rangka merealisir ajarannya, menempuh beberapa jalan. Jalan terpenting itu, diantaranya :
[1] Menjauhkan diri dari menuntut ilmu syar'i. Dikatakan oleh Al-Junaid, seorang pentolan sufi, "Yang paling aku sukai pada seorang pemula, bila tak ingin berubah keadaannya, hendaknya jangan menyibukkan hatinya dengan tiga perkara berikut : mencari penghidupan, menimba ilmu (hadits) dan menikah. Dan yang lebih aku sukai lagi, pada penganut sufi, tidak membaca dan menulis. Karena hal itu hanya akan menyita perhatiannya".
Demikian pula yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darani, "Jika seseorang menimba ilmu (hadits), bepergian untuk mencari penghidupan, atau menikah, sungguh ia telah condong kepada dunia."
[2] Menghancurkan sanad-sanad hadits dan menshahihkan hadits-hadits dha'if (lemah), munkar dan maudhu' (palsu) dengan cara kasyaf. Sebagaimana dikatakan Abu Yazid Al-Busthami, "Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat. Sedang kami mengambil ilmu dari yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.
Hal itu seperti yang telah disampaikan para pemimpin kami : "Telah mengabarkan pada aku hatiku dari Rabbku". Sedang kalian (maksudnya, kalangan Ahlu Al-hadits) mengatakan : "Telah mengabarkan kepada kami Fulan". Padahal, bila ditanya dimana dia (si Fulan tersebut) ?.
Tentu akan dijawab : "Ia (Fulan, yakni yang meriwayatkan ilmu atau hadits tersebut) telah meninggal". "(Kemudian) dari Fulan (lagi)". Padahal, bila ditanyakan dimana dia (Fulan tadi)? Tentu akan dijawab : "Ia telah meninggal". Dikatakan pula oleh Ibnu Arabi, "Ulama Tulisan mengambil peninggalan dari salaf (orang-orang terdahulu) hingga hari kiamat.
Itulah yang menjauhkan atau menjadikan timbulnya jarak antara nasab mereka. Sedang para wali mengambil ilmu dari Allah (secara langsung). Yakni, dengan cara Ia (Allah) mengilhamkan kedalam hati para wali". Dikatakan oleh Asy-Sya'rani, "Berkenan dengan hadits-hadits. Walaupun cacat menurut para ulama ilmu hadits, tapi tetap shahih menurut ulama ilmu kasyaf".
[3] Menganggap menimba ilmu (hadits) sebagai perbuatan aib dan merupakan jalan menuju kemaksiatan serta kesalahan. Ibnu Al-Jauzi menukil, bahwa ada seorang syaikh sufi melihat seorang murid membawa papan tulis (baca : buku), maka dikatakannya kepada murid tersebut :"Sembunyikan auratmu". Bahkan, mereka saling mewariskan sebagian pameo-pameo yang bertendensi menjauhkan peninggalan salaf, umpanya : Barang siapa gurunya kitab, maka salahnya lebih banyak dari benarnya.

Sanggahan Terhadap Pernyataan-Pernyataan Sebagaimana Diungkap Diatas :
Pertama: Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dengan kemampuannya dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti keadaan nabi Khidir dengan nabi Musa, maka ia telah kafir berdasarkan ijma' para ulama kaum muslimin. Karena, nabi Musa tidaklah diutus kepada nabi Khidir, dan tidak pula nabi Khidir diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa.
Padahal Allah telah menjadikan masing-masing nabi mempunyai jalan dan minhaj yang berbeda-beda. Dan peristiwa yang demikian itu, berulang kali terjadi sebelum beliau diutus sebagai nabi. Seperti, sezamannya nabi Luth denga nabi Ibrahim, nabi Yahya dengan nabi Isa.
Sesungguhnya para nabi tersebut dibangkitkan untuk kaumnya saja, sedangkan Muhammad shalallallahu 'alaihi wa sallam dibangkitkan untuk seluruh manusia hingga hari kiamat. Telah bersabda Shallallahu 'alaihi wa sallam. Artinya: "Adalah para nabi diutus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim].
Artinya: "Tidak seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik Yahudi atau Nashrani, kemudian tidak beriman kepadaku, melainkan akan dimasukkan ke neraka" [Hadits Shahih Riwayat Muslim I/93]
Aqidah semacam ini merupakan asasnya Islam, berdasarkan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Artinya: "Tidaklah engkau Kami utus kecuali untuk seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan". [Saba' : 28]
Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Artinya: "Katakanlah, wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua". [Al-A'raf : 157]
Dan siapa saja yang 'alim, baik jin maupun manusia, diperintahkan untuk mengikuti rasul yang ummi ini. Maka barangsiapa yang mengaku bahwa dengan kemampuannya dapat keluar dari minhaj dan petunjuk nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ke minhaj lainnya, walaupun minhaj Isa, Musa, Ibrahim, maka dia sesat dan menyesatkan. Telah bersabda Shalallahu 'alaihi wa sallam. Artinya: "Seandainya Musa turun, lalu kalian semua mengikutinya dan meninggalkan aku, maka sungguh sesatlah kalian. Aku adalah bagian kalian, dan kalian adalah bagian dari umat-umat yang ada". [Riwayat Baihaqi dalam Syu'abu al-Iman, dan lihat pula dalam Irwa'al-Ghalil karangan Al-Bani hal. 1588]
Adapun keyakinan orang-orang sufi bahwa nabi Khidir masih tetap hidup, selalu berhubungan dengan mereka, mengajarkan kepada mereka ilmu yang diajarkan Allah kepadanya, seperti nama-nama Allah yang Agung, hal ini merupakan dusta dan mengada-ada. Karena menyelesihi Al-Qur'an secara nyata: Artinya: "Dan tidaklah kami jadikan seorang manusiapun sebelummu abadi". [Al-Anbiya' : 34] Artinya: "Tidak ada satu jiwapun yang bernafas pada hari ini yang datang dari zaman seratus tahun sebelumnya, sedangkan dia saat sekarang ini masih hidup". [Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Jabir]
Hadits-hadits yang menerangkan masih hidupnya nabi Khidir semuanya maudhu' (palsu) menurut kesepakatan seluruh ulama hadits.
Kedua: Adapun hujjah mereka dengan firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Artinya: "Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu (ilmu)". [Al-Baqarah : 282]
Hal itu bukanlah hujjah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan pemahaman ayat ini dan telah menentukan cara mencari ilmu yang disyari'atkan dan diwajibkan atas setiap muslim. Seperti sabdanya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Artinya: "Sesungguhnya ilmu itu (diperoleh) dengan cara belajar". [Hadits Riwayat Daruquthni dalam Al-Ifrad wa al-Khatib dalam tarikhnya dari Abu Hurairah dan Abu Darda'. Lihat Silsilah Ash-Shahihah 342]
Kata innama (sesungguhnya) disini adalah untuk membatasi.
Ketiga: Perihal pendapat mereka yang menyatakan, bahwa mencari ilmu dengan cara belajar adalah jalan yang memayahkan, terlalu bertele-tele, dianggap condong kepada dunia serta menyita perhatian dan kesungguhan (walaupun telah tinggi dalam menuntut ilmu tadi), tetap dianggap tidak sempurna. Kecuali, bila ditempuh dengan cara kasyaf dan ilham.
Berkenan dengan ilmu itu sendiri, termasuk tentunya dalam pengamalannya. Bahkan sebatas mencari ilmu semata. Berkata Ibnu Al-Jauzi, "Iblis menginginkan untuk menutup jalan tersebut dengan cara yang paling samar. Memang jelas bahwa yang dimaksud adalah mengamalkannya bukan sebatas mencari ilmu saja. Namun, dalam hal ini para penipu itu telah menyembunyikan masalah pengamalannya. Dan tidaklah kasyaf yang mereka dakwakan itu, kecuali hanya khayalan setan belaka.
Artinya: "Maukah Aku khabarkan kepada kalian tentang kepada siapa setan turun ? (Setan) turun kepada setiap pendusta dan suka berbuat dosa. Mereka menghadapkan pendengarannya itu (kepada setan), dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta". [Asy-Syu'ara : 221-223]
Artinya: "Tidaklah kamu melihat bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghusung mereka agar berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh ? Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksaan bagi mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung (hari siksaan) itu untuk mereka dengan perhitungan yang teliti. Ingat ketika hari Kami mengumpulkan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. Dan kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga". [Maryam : 83-86]
Adapun pengakuan mereka, seperti pensyarah Al-Ushul katakan, bahwa kasyaf merupakan bagian dari iman yang benar. Dan maksud kasyaf adalah disingkapkannya sebagian yang tersembunyi, dan tidak tampak, mengetahui gerak-gerik jiwa dan niat serta kelemahan sebagian manusia. Kasyaf semacam inilah yang disebutkan dalam hadits syarif sebagai firasat seorang yang beriman. [11] Jadi bila ada perkataan mereka semacam ini : "Telah mengabarkan kepadaku hatiku dari Rabb-ku" tidak lain adalah perkataan khurafat.
Keempat: Sebagian mereka mengakku dapat melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam tidurnya, lalu mengajarkan kepadanya beberapa perkara dan memintanya untuk berbuat begini dan begitu. Seperti, kata Ibnu Arabi, "Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mimpi. Aku melihatnya saat sepuluh akhir di bulan Muharram 627H, di Mahrusah, Damsyiq. Saat itu di tangan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membawa kitab.
Maka sabdanya kepadaku, 'Kitab ini adalah kitab Fushush Al-Hikam'. Ajarkan dan sebarkan kepada manusia agar bisa memetik manfa'at darinya. Kemudian aku katakan, Aku dengar dan taat kepada Allah, Rasul-Nya serta ulil amri diantara kita sebagaimana yang engkau perintahkan. Maka, aku pun berusaha merealisasikan cita-cita dan aku murnikan niatku serta kubulatkan tekad untuk mengajarkan kitab ini sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. tanpa mengurangi dan menambahinya".

Bantahan Terhadap Pendapat Diatas Adalah Sebagai Berikut:
[1] Para Rasul tidak memerintahkan kemaksiatan apalagi kekufuran, seperti yang memenuhi kitab Fushush Al-Hikam. Seperti, mengkafirkan nabi Allah, Nuh (hal. 70-72), meyakini bahwa Fir'aun itu telah beriman (hal. 21), membenarkan pendirian Samiri dan perbuatannya dalam membuat patung (yang menimbulkan fitnah di kalangan bani Israil) hingga mengibadahinya (hal. 188).
[2] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyuruh menyelisihi syari'at. Sesungguhnya, ada yang mengatakan bahwa setan menampakkan diri dalam bentuk nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di hadapan Ibnu Arabi. Padahal mustahil hal itu bisa terjadi. Dia (Ibnu Arabi) telah tertipu dan terperdaya.
Walau ia mengatakan yang demikian itu dengan niat baik dan prasangka bersih. Tetapi yang demikian itu mustahil, karena setan tidak akan mampu menyerupai nabi. Maka, bagaimana hal itu bisa terjadi padahal Nabi yang ma'shum Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: Artinya : Barangsiapa yang melihatku (dalam mimpinya) maka sesungguhnya akulah dia. Karena "sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku". [Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah, mempunyai penguat yang sangat banyak, sebagiannya Shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Lihat Shahih Al-Jami' dan ziyadahnya V/293]

 
Back To Top